You are browsing the archive for puisi.

Canting

6:00 pm in Informasi by en-Nasira

Ku canting kain putih…
Pemberian Ndoro
Tanda aku
Jadi milik beliau

Ku canting kain putih
Dengan gaya gores lepas
Tak ada gambar contoh

Ku canting kain putih
Tiap malam
Sambil menunggu Ndoro
Memanggil-ku ke kamar

Ku canting kain putih
Tanpa suara
Bila Ndoro bertanya
Aku manggut tanpa kata

Ku canting kain putih
Setelah lama tak ku sentuh
Genap satu purnama
Ndoro baru sehat dari sakit

Ku canting kain putih
Lebih sering
Ndoro pulang
Ke rumah Den Roro tinggal

Ku canting kain putih
Warna terakhir
Tak tahan badan
Menyanggah perut besar
Yang genap  7 purnama

Kain putih cantingan
Goresan penuh
Lengkung kanan kiri
Tarik sana tarik sini
Sekedar
Kain putih
Jadi kain cantingan

Tuangan perasaan
Tuangan hati
Tuangan jiwa

Baiklah….
Akan ku canting kain putih
Jika nanti bayi telah lahir

Akan ku canting kain putih
Tiap malam
Sambil menunggu Ndoro
datang berkunjung

Abdi Ndoro Bagus
avatar

by Phei

Renungan Untuk Seorang Anak – Saat Daku Tua

11:31 pm in Renungan by Phei

Di saat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu.
Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.

Di saat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku,
Di saat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu,
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.

Di saat saya dengan pikunnya mengulang terus-menerus ucapan yang membosankanmu,
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku,
Di masa kecilmu, Daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah
cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.

Di saat saya membutuhkanmu untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkanku.
Ingatkah di masa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?

Di saat saya kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
Janganlah menertawaiku.
Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang engkau ajukan di saat itu.

Di saat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku.
Bagaikan di masa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.

Di saat daku melupakan topik pembicaraan kita,
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya.
Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku,
asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.

Di saat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih.
Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu
di saat engkau mulai belajar tentang kehidupan.

Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupku.
Berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu, Daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur.
Di dalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu.