Posts Tagged Noordin M Top

Minal ‘Aidin Wal-Faizin Teman-Teman

Teman-teman kita segenap kru Warung Curhat ingin mengucapkan Selamat Idul Fitri 1430H bagi yang merayakan. Kami ingin mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila masih kurang berkenan bagi teman-teman. Untuk itu kami ingin juga minta bantuan dari teman-teman untuk meberi kita masukan dalam setiap karya-karya yang sudah maupun akan kita buat nantinya.

Idul Fitri tahun ini sepertinya menjadi berkah tersendiri bagi kita secara umum maupun individu. Selain sebagai titik cerah kehancuran kerajaan terorisme di Indonesia yang ditandai dengan kematian Noordin M Top, idul fitri tahun ini pasti juga membawa berkah bagi kita secara individu. Yang terpenting jangan sampai kita lupa mengucapkan syukur pada Tuhan. Selain karena kita berhasil melewati puasa selama 1 bulan, kita juga harus bersyukur atas kedamaian yang kita dapatkan menjelang akhir tahun nanti.

Setelah menjalani sebulan berpuasa dan menghadapi berbagai tantangan serta cobaan, tidak ada salahnya bila kita rayakan dengan lebih gembira. Banyak diantara kita merayakannya dengan mudik pulang ke kampung halaman masing-masing. Tapi tahun ini aktivitas mudik sendiri terlihat sedikit berkurang, mungkin karena disebabkan juga kenaikan harga tiket transportasi umum sampai 100%.

Belum lagi kenaikan harga bahan pokok yang membuat kantong ‘cekak’ akhirnya membuat orang enggan menghabiskan biaya untuk mudik. Tidak jarang juga mereka yang menunda untuk mudik hingga semua harga turun, sekalian menunggu arus balik yang memudahkan perjalanan untuk mudik.

Yang pasti Idul Fitri tahun ini tidak kalah meriah dengan Lebaran tahun-tahun kemarin. Tetapi kita patut bersyukur juga, karena tidak terjadi kerusuhan menjelang lebaran tahun ini. Tahun-tahun kemarin kita masih dihantui berbagai kekawatiran menjelang Lebaran karena berbagai ancaman terorisme.

Intinya Idul Fitri tahun ini kita kembali diperbarui menjadi manusia yang baru, kita juga harus bisa memaafkan diri kita sendiri dan juga sesama kita. Karena hal tersebut akan menjadi awal hidup kita yang baru. Puasa ego dan nafsu tidak hanya dijalankan pada bulan ini saja, tapi tetap harus kita laksanakan setiap harinya. Sekali lagi Mohon Maaf Lahir dan batin dari kami.

  • Share/Bookmark

Tags: , ,

Benarkah Terorisme Mati?

Tepat tanggal 17 September kemarin tersiar di sejumlah media mengenai kematian Noordin M Top, buronan yang selama 9 tahun terakhir ini dicari oleh aparat dan mengkawatirkan masyarakat. Sejumlah serangan bom di Indonesia sudah sangat merugikan Indonesia. Baik pemerintah maupun warga negara. Noordin yang mengepalai sejumlah pengeboman di Indonesia akhirnya tertembak mati saat penyergapan di Jawa Tengah.

Semalam disebarkan pula foto jenasah Noordin di sejumlah media, kini polisi masih menjalani sejumlah tes DNA untuk memastikan bahwa mayat yang mirip Noordin tersebut benar-benar jenasah teroris nomor wahid tersebut. Banyak juga pihak yang meragukan, tetapi hasil tes sidik jari menyatakan bahwa memang jenasah itu milik Noordin. Hanya saja untuk memastikannya lagi polisi tetap akan melakukan tes DNA.

Tetapi jika memang benar itu adalah jenasah Noordin M Top, apakah hal itu akan membuat Indonesia bersih dari terorisme? Keberhasilan aparat yang bertindak secara cepat untuk menangani terorisme terakhir ini memang patut kita puji, tetapi apakah ini berarti kematian Noordin akan menghentikan terorisme? Ada baiknya kita tetap waspada, karena tidak mungkin selama 9 tahun menjadi buron Noordin hanya bekerja sendirian. Ia pasti sudah mempersiapkan diri jika kelak dia tertangkap atau mati.

Tidak ada salahnya jika kita tetap menaruh rasa khawatir, secara terorisme belum benar-benar dibasmi sampai ke pihak paling bawah. Mereka mungkin masih berkeliaran di sekitar kita untuk mulai memutuskan pemimpin yang baru setelah kematian Noordin. Kita bisa melakukan beberapa pencegahan dengan beberapa cara, misalnya dengan mendata setiap warga di sekitar rumah kita. Kita bisa menanyakan latar belakang seseorang yang mungkin baru pindah ke daerah kita, serta cross check langsung ke keluarga yang bersangkutan.

Bisa juga dengan mengetahui latar belakang pekerjaan orang tersebut, tapi sebaiknya itu juga kita lakukan dengan sistem kekerabatan. Tidak ada salahnya kita lebih berhati-hati, karena jika hanya aparat yang bertindak tidak akan menyelesaikan sejumlah masalah terorisme. Kita sebagai warga juga wajib turut membantu membasmi terorisme. Hal yang dikawatirkan juga adalah sejumlah masyarakat yang mendukung tindak terorisme yang akhirnya selama ini secara tidak langsung ikut membantu pelarian para teroris.

Teman, terorisme mungkin tidak akan bisa secepat itu dituntaskan. Tetapi kita bisa memulainya dari diri kita sendiri untuk menanamkan dalam diri kita rasa patriotisme yang positif. Menjauhi segala ajaran yang menyesatkan. Bom bunuh diri yang menewaskan sejumlah orang tentu saja tidak dikategorikan sebagai ajaran yang baik. Bagaimana menurut teman-teman?

  • Share/Bookmark

Tags: , ,

Bom Yang Tak Kenal Lelah

Kapan ya rencana seorang Noordin M Top dan antek-anteknya merencanakan pensiun dini?? Memangnya jaman sekarang ini susah banget ya cari kerjaan, sampai2 banyak yang nglamar jadi “pengantin” nya teroris. Bingung juga ya? sabtu kemarin saya membaca berita di koran mengenai seseorang yang mengaku bernama Noordin mengirimkan email pada salah satu siswa SMK di Jawa Timur. Kurang lebih isinya bagaimana Noordin menyatakan akan pensiun setelah ia berhasil membalas perbuatan Amerika dan menghancurkan kekuatan mereka di negeri serta Mengeluarkan mereka dari negeri-negeri kaum muslimin terutama dari negeri Indonesia. Nah lho, klo kita telaah lagi ini bisa dibilang bukan membela bangsa dan negara kita tercinta. karena didalam tujuannya para teroris lebih mementingkan dendam pribadi mereka dengan Amerika. Buktinya dalam setiap serangan bom yang kita ketahui lebih banyak warga Indonesia yang menjadi korbannya, lalu bagaimana pertanggung jawaban para teroris??

Saya tidak tahu bagaimana pola pikir para teroris, dendam yang membara dan dipendam kadang bisa membuat seseorang buta mata hatinya, sehingga mereka tega menyakiti orang tanpa pandang bulu. Saya ingin membagikan sebuah cerita yang saya dapat dari salah satu renungan pagi. Kisah mengenai Mojon dan shosei kina, suatu ketika di desa Shimmabuko, di pulau Okinawa terdapat Mojon dan Shosei kina yang sedang duduk di gubuk mereka yang reyot dan tidak terurus di pesisir pantai, akan tetapi pemandangan alam di sekitar desa nelayan itu yang sungguh bagus nampaknya. Suatu ketika mereka tengah duduk & berdiskusi mengenai hal ajaib yang baru mereka rasakan yaitu sebuah kitab yang diberikan seorang utusan penginjil dari negeri asing. Utusan injil itu mengajarkan mereka tentang Bapa Surgawi yang mengasihi & memelihara mereka. Orang asing itu berkata “Kamu dan Mojon harus membacanya. Kitab ini dapat memberi hikmat kepada kalian, dapat mengajar kalian lebih banyak lagi tentang Sang Juru Selamat. Peliharalah Kitab ini baik-baik; aturlah cara hidup kalian menurut isinya. Berdoalah, mohon supaya Allah Bapa membimbing usaha kalian untuk hidup sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus.”

Maka mulailah mereka membaca apa yang tertulis dalan alkitab tersebut. Mereka mulai membicarakannya pada penduduk Simmabuko. Penduduk desa itu mulai menjalani ajaran kitab itu dan mereka mulai hidup saling mengasihi & saling membantu tanpa pamrih, kebiasaan hidup mereka yang lama mereka tinggalkan. Mereka mulai berlaku jujur & memikirkan kepentingan orang lain. Hasilnya, desa yang awalnya kumuh itu berubah menjadi desa yang tentram & bersih. Tidak ada perselisihan terjadi. Hal ini berlangsung secara turun temurun pada tiap generasi. Penduduk yang paling rajin membaca alkitab adalah Mojon, semua penduduk desa sering meminta nasihat padanya. Sampai suatu ketika terjadi perang di Lautan Pasifik. Pasukan penggempur Amerika Serikat mengepung pulau Okinawa. Mereka memukul mundur pasukan Jepang yang sedang menduduki pulau itu. Desa Shimmabuko terletak persis di jalan yang hendak dilewati bala tentara Amerika. Beberapa bom meledak di desa yang tadinya damai dan sentosa itu. Pasukan Amerika semakin mendekat. Mereka membidikkan senjata ke arah desa Shimmabuko. Maka Shosei Kina dan Mojon sadar, telah tiba saatnya mereka harus bertindak. Kedua nelayan bersaudara yang sudah tua itu keluar dari desa mereka dan menuju ke baris depan pasukan penggempur Amerika. Mereka tersenyum ramah. Mereka membungkuk sebagai tanda hormat, sambil mengucapkan “Selamat datang!” Serdadu-serdadu Amerika itu kebingungan. Mereka berhenti melangkah. Untung, ada seorang pengalih bahasa yang mengikuti mereka. Setelah bercakap-cakap sebentar dengan kedua orang Okinawa itu, wajahnya penuh kehenaran. Ia menjelaskan: “Mereka hendak menyambut kita sebagai sesama orang Kristen! Kata mereka, dulu di sini ada utusan Injil dari Amerika, dan mereka senang sekali bertemu dengan kita!” Ia menggaruk-garuk kepalanya tanda kebingungan.

Dalam pasukan penggempur itu ada juga seorang pendeta tentara. Dengan beberapa opsir tentara, ia menghadap kepada kedua nelayan pulau Okinawa itu. “Biarkanlah kami memeriksa desa kalian,” pinta mereka melalui pengalih bahasa tadi. Kedua nelayan yang sudah tua itu membungkuk lagi. Lalu mereka mengantarkan orang-orang Amerika itu ke desa Shimmabuko. Memang ada beberapa bangunan yang terkena bom, tetapi tidak ada penduduk yang terluka. Mereka semua keluar dari rumah dan berderet-deret di sepanjang jalanan desa. Mereka tersenyum lebar-lebar ke arah teman-teman mereka yang baru itu. Pendeta tentara dan para opsir itu semakin kagum.Bagaimana sampai terjadi ada desa yang seolah-olah berseri ini? Rumah-rumahnya begitu rapi; jalanannya begitu bersih; para penghuninya begitu ramah, sehat, berbahagia! “Tolong beritahu kami,” pinta mereka kepada kedua nelayan tua itu, “bagaimana sampai terjadi kalian mempunyai desa yang begitu bagus keadaannya?” Dengan bantuan pengalih bahasa, Mojon memberitahu mereka. Ia bercerita tentang utusan Injil yang pernah mampir di Shimmabuko tiga puluh tahun yang silam. Ia bercerita tentang Alkitab yang ditinggalkan oleh orang Kristen itu. Ia pun menjelaskan bagaimana penduduk desa itu sudah menyelidiki Alkitab serta menemukan di dalamnya corak baru untuk cara hidup mereka. Pendeta tentara dan para opsir itu diam saja karena keheranan. Tetapi Shosei Kina mengira mereka membisu karena kecewa terhadap dia dan desanya. “Kami sangat menyesal, Tuan-Tuan yang mulia,” katanya sambil membungkuk lebih dalam lagi. “Pasti cara hidup kami dipandang masih terbelakang. Namun dengan sebulat hati kami berusaha mengikuti ajaran Tuhan Yesus yang tercantum di dalam Alkitab. Sudilah Tuan-Tuan yang mulia mengajari kami, bagaimana kami dapat mengikuti ajaran-Nya itu dengan cara yang lebih baik.” “Cara yang lebih baik?” Pendeta tentara itu mengulangi kata-kata tadi “Cara hidup mereka ini sudah jauh lebih baik daripada cara hidup kebanyakan orang Kristen!”

Beberapa jam kemudian, ada seorang wartawan Amerika yang ingin menyaksikan “desa yang berseri” itu. Ia dikawal oleh seorang sersan tentara yang adatnya keras. “Aku tidak mengerti,” kata sersan itu kepada sang wartawan. “Kebanyakan desa di pulau ini, penduduknya kotor, bodoh, putus asa. Tapi coba lihat desa ini! Perbedaannya begitu besar. Dan kata mereka semuanya terjadi hanya oleh karena di sini ada sebuah Alkitab dan dua orang kakek yang mau hidup seperti Yesus.” Kedua orang Amerika itu bertemu dengan Shosei Kina dan Mojon. Mereka merasakan hangatnya sambutan kedua nelayan bersaudara itu, walaupun mereka tidak mengerti kata-kata yang diucapkan. Sang wartawan ingin menyaksikan sendiri Alkitab yang telah menyebabkan perubahan yang sedemikian besarnya di desa Shimmabuko. Shosei Kina dan Mojon mengantar dia ke tempat ibadah. Di sana terdapat sebuah mimbar kasar dengan sebuah Alkitab tua yang diletakkan di atasnya, di tempat yang terhormat. “Bolehkah kupegang?” tanya wartawan itu dengan bahasa isyarat. Shosei Kina tersenyum. Ia mengangkat Alkitab tua itu dari atas mimbar. Sampulnya hampir terlepas; halamannya kumal; ternyata Kitab Suci itu pernah kehujanan, lalu dikeringkan. Namun Kitab Suci itu sangat berharga bagi penduduk desa Shimmabuko. Dengan pelan-pelan Shosei Kina meletakkan Alkitab itu di telapak tangan sang wartawan. Sersan itu amat terkesan. “Mungkin kita sudah bertempur dengan senjata yang keliru,” ia berbisik. “Mungkin Kitab Suci inilah yang lebih ampuh mengubah keadaan dunia.” Alkitab itu dikembalikan ke tempatnya. Kedua orang Amerika itu kembali ke tempat perkemahan mereka. Dan kedua orang Okinawa yang sudah tua itu berpamitan dengan sahabat-sahabat baru mereka. Rasa persahabatan itu hanya dapat timbul oleh karena ajaran Tuhan Yesus saja. Perang yang dahsyat sedang mencekam seluruh dunia. Namun di Shimmabuko, Firman Allah telah menjadi peraturan desa. Dan “desa yang berseri” itu tetap damai dan sentosa.

Cerita yang baru saja kita baca ini tidak hanya bisa diserap oleh umat Kristen saja, tapi saya sangat percaya bahwa dalam ajaran kitab manapun tidak akan mungkin ada ajaran untuk menyakiti sesama kita, apalagi sampai membalas dendam dengan membabi buta, dengan alasan membela agama2 tertentu. Kawan, mengapa tidak kita mulai mencoba untuk hidup saling berdampingan. Karena dendam dan amarah hanya akan menghasilkan karma yang sia2, yang pada akhirnya membuat keadaan semakin kacau. Coba ya para teroris itu tidak menyangkutkan agama tertentu & berhenti mendendam, sudah pasti dunia ini akan aman. Terjadinya perang dibeberapa daerah sering terjadi karena perselisihan pendapat & adanya rasa iri terhadap sesama. Coba deh kita mulai dari hal2 kecil dalam hidup kita, misalnya dengan mulai mengampuni orang yang menyakiti kita. Setiap Kesabaran pasti akan berbuah kasih yang berlimpah ^_^. Saya percaya perdamaian itu akan bisa kita ciptakan. Tuhan Besertamu kawan.

  • Share/Bookmark

Tags: ,

Powered by Yahoo! Answers