Pemerintah Sediakan Rp 13,5 Miliar
6:55 am in Informasi by Yogi Liman
SOLO, KOMPAS.com — Pemerintah menyediakan dana Rp 13,5 miliar untuk upaya penanggulangan penyakit difteri di Provinsi Jawa Timur menyusul ditetapkannya status kejadian luar biasa (KLB) di provinsi tersebut. Dana ini akan digunakan untuk pemberian vaksinasi dan serum anti-difteri kepada masyarakat di wilayah KLB.
Hal ini dikatakan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih seusai penutupan rapat kerja nasional Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Kota Solo, Jumat (14/10/2011).
"Difteri terjadi antara lain karena cakupan imunisasi rutin yang tidak tinggi sehingga ada daerah-daerah yang menjadi kantong dengan anak-anak yang tidak mendapat imunisasi difteri," kata Endang.
Padahal, menurut Endang, penyakit difteri mudah menular. Hanya melalui percikan air ludah, penyakit sudah dapat menular sehingga anak-anak yang belum mendapat imunisasi akan mudah tertular dan bisa langsung meninggal dunia.
Sebanyak 34 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur sejak 7 Oktober lalu dinyatakan KLB difteri. Sejak awal tahun 2011, sudah 11 orang meninggal dunia akibat difteri di provinsi ini. Hanya empat kabupaten di Jawa Timur yang bebas difteri, yakni Pacitan, Ngawi, Trenggalek, dan Magetan.
Stimulasi untuk Tingkatkan Kecerdasan Anak
3:11 am in Informasi by Yogi Liman
SOLO, KOMPAS.com - Untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak dibutuhkan bukan hanya nutrisi dan imunisasi, melainkan juga kasih sayang dan stimulasi. Perkembangan otak manusia berkembang pesat sejak janin masih dalam kandungan, hingga bayi berusia tiga tahun. Setelah itu perkembangan otak melambat.
Hal itu dikatakan dokter spesialis anak, Soedjatmiko, dalam media briefing usai simposium "Nutrisi untuk Pertumbuhan serta Deteksi Dini dan Intervensi Penyimpangan Tumbuh Kembang" dalam rangka rapat kerja nasional Ikatan Bidan Indonesia di Kota Solo, Selasa (11/10/2011).
Menurut Soedjatmiko, nutrisi terbaik untuk bayi adalah air susu ibu (ASI), yang harus segera diberikan setelah kelahiran hingga bayi usia enam bulan. Setelah itu bayi diberikan makanan pendamping ASI.
Anak di bawah usia tiga tahun yang mengalami kekurangan nutrisi, akan menyebabkan tingkat kecerdasannya tidak sebaik anak yang mendapat kecukupan gizi.
"Namun cukup gizi saja tidak cukup. Jika otak pintar namun bayi tidak mendapat cukup stimulasi, dia juga tidak bisa apa-apa. Pada prinsipnya, asah asih asuh untuk bayi-bayi kita agar menjadi generasi penerus yang berkualitas," kata Soedjatmiko.
Tiap Jam, Satu Perempuan Indonesia Meninggal
11:15 pm in Informasi by Yogi Liman
DENPASAR, KOMPAS.com - Kanker serviks adalah penyakit yang bisa menghantui kaum hawa karena keganasannya menyerang leher rahim (serviks), bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang vagina.
Lalu, serangan itu berubah menjadi sel kanker dan biasanya memakan waktu 3 tahun -17 tahun sampai terjadi kanker. Dan ketika seorang perempuan menderitanya, maka kematian pun siap menjemput.
Karenanya, jika perempuan segera sadar, kesempatan mencegah cukup lama dengan mendeteksi skrining dan menangani sebelum benar-benar terjadi. Yakni, bisa dengan vaksin Human Papilloma (HPV).
Dalam seminar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Denpasar dan RSIB Puri Bunda "Pencegahan Kanker Serviks untuk Praktek Dokter Sehari- hari", di Batukaru Room Hotel Aston, Denpasar, diungkapkan di dunia setiap satu menit seorang wanita meninggal akibat kanker serviks. Sementara di Indonesia, satu perempuan meninggal karena penyakit serupa setiap satu jam.
Ketua IDI Denpasar dr I Ketut Suyasa, Sp.B, Sp.OT(K) dalam sambutannya yang sekaligus membuka seminar tersebut, menyampaikan dokter pun tetap memerlukan pengetahuan tambahan untuk mencegah kanker serviks secara dini .
"Ini butuh kerjasama semuanya. Kampaye pencegahan perlu digencarkan agar perempuan Bali bebas kanker serviks 2012," katanya. Sementara pembicara, dr IB Upadana Pemaron, SpOG dalam paparannya menyampaikan bahwa di Indonesia, lebih dari 70 persen kasus kanker serviks ditemukan saat sudah stadium lanjut (di atas 2B), dengan angka kejadian setiap satu jam seorang perempuan meninggal.
Oleh karena itu pencegahan penyakit yang disebabkan oleh virus Human Papilloma (HPV) itu dapat dilakukan melalui pencegahan primer yaitu melalui edukasi dan vaksinasi.
"Pencegahan sekunder dengan Pap Smear atau IVA (Inspeksi visual asam asetat). Pada praktek dokter sehari-hari, akan menjadi penting bagi seorang dokter untuk dapat melakukan pendekatan kunjungan tunggal, memberikan pengetahuan, serta memberikan konseling mengenai bahaya kanker serviks," ajaknya di depan 125 dokter umum sebagai peserta.
Ia menambahkan vaksinasi diikuti dengan skrining merupakan perlindungan terbaik untuk mencegah kanker serviks. Hanya saja, mahalnya harga vaksin untuk tiga kali suntik masih menjadi kendala.
Direktur Utama RSIA Puri Bunda dr Ida Bagus Semadi Putra, SpOG dalam sambutannya menyampaikan bahwa RSIA Puri Bunda sebagai Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak konsen terhadap kesehatan Ibu dan Anak sehingga ikut berperan aktif mencegah kanker.
Ia pun mendukung program angsuran pembayaran untuk para perempuan yang sadar untuk vaksinasi. "Nah, jadi yuk dokter umum ikut kampanyekan Bali bebas kanker serviks 2012. Harga vaksinasi yang mahal mari atasi sementara dengan sistem subsidi dan angsuran....," seruan Suyasa serta Pamaron.
Ibu Negara: Jangan Tunggu Sampai Ada Keluhan!
10:00 pm in Informasi by Yogi Liman
JAKARTA, KOMPAS.com - Kanker serviks merupakan ancaman, yang dapat menimbulkan penderitaan, beban kesehatan dan mental pada perempuan yang terkena. Dampak lebih fatal bisa menyebabkan kematian. Penting untuk masyarakat khususnya kaum perempuan untuk waspada terhadap kanker serviks karena sifatnya yang tidak terlihat, namun mematikan.
"Saya mengajak semua perempuan mengubah paradigma mengenai kanker serviks. Yang sebelumnya kita hanya menunggu, kalau ada keluhan baru ke dokter, sekarang harus menjadi lebih proaktif dan kontinyu dalam memeriksakan diri, tanpa menunggu adanya gangguan atau keluhan," ucap Ibu Negara Kristiani Susilo Bambang Yudhoyono, saat acara Gerakan Perempuan Melawan Kanker Serviks, di Gedung Pertamina, Kamis (6/10/2011).
Ibu Negara mengatakan, keengganan masyarakat melakukan deteksi dini kerap membuat kanker yang seharusnya bisa diobati, menjadi sebuah ancaman yang lebih besar dan mematikan. "Kita harus berubah. Dalam arti merubah gaya hidup agar lebih sehat sehingga dapat memperkecil kemungkinan terkena penyakit itu. Kita juga harus meningkatkan kepedulian terhadap sesama, memberikan pencerahan kepada perempuan yang ternyata masih banyak yang belum tahu akan ancaman itu," katanya.
Ia menegaskan, pengertian tentang kanker serviks mutlak harus dipahami oleh setiap perempuan Indonesia. Di samping juga peran dan kerjasama seluruh elemen masyarakat, akan sangat menentukan tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang baik. "Ketidaktahuan kaum perempuan Indonesia pada bahaya kanker serviks, menunjukkan perlunya dilakukan upaya yang terus menerus dan berkesinambungan untuk mensosialisasikan penyakit ini dengan berbagai cara," jelasnya.
Menurut Ibu Negara, sosialisasi dan edukasi dapat dilakukan dengan melibatkan berbagi elemen masyarakat seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, PKK, dan organisasi perempuan lainnya yang cukup banyak di Indonesia.
Pencegahan dengan deteksi dini kanker serviks pada dasarnya bisa dilakukan dengan berbagai cara yakni melalui vaksinasi, dan skrining atau deteksi dini dengan PAP Smear dan IVA (Inspeksi Visual dengan asam asetat).
Di samping itu, kata Ibu Negara, yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh, dengan mengonsumsi makanan bergizi, makan sayuran dan buah serta perilaku hidup bersih baik kebersihan diri, keluarga dan lingkungan.
"Ada pepatah bijak mengatakan lebih baik mencegah dari pada mengobati. Hal itu benar sekali. Karena dengan mencegah kita akan mengurangi risiko yang lebih besar lagi. Mari jaga kesehatan kita agar hidup lebih bahagia. Jangan menunda-nunda untuk lakukan skrining," tandasnya.
Kasus HIV di Jawa Barat Capai 3.809 Orang
2:42 am in Informasi by Yogi Liman
JAKARTA, KOMPAS.com - Sampai dengan Juni 2011, kasus HIV di Jawa Barat mencapai 3.809 orang.
Dari sisi tingkat kematian korban terjadi penurunan. Pada tahun 2006 tingkat kematian korban mencapai 24 persen, sementara tahun 2010 turun menjadi 4,5 persen.
Demikian ungkap IMPACT Assistant Program Manager, Irma Anintya, melalui rilis yang diterima Kompas, Kamis (29/9/2011).
"Dari sisi jumlah kasus memang terus meningkat, tetapi tingkat kematian korban mengalami penurunan," katanya.
IMPACT adalah program kolaborasi antara Universitas Padjadjaran Bandung, dengan tiga universitas di Eropa. Kegiatan itu didanai Komisi Eropa.
Lewat program tersebut IMPACT melakukan konseling dan perawatan para korban HIV, sehingga semangat hidup mereka kembali bangkit.









