You are browsing the archive for Renungan.

by Phei

SENYUMAN YANG TERBAIK (Part. 2)

11:51 pm in Renungan by Phei

Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.”

Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-2ku! ” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami.

Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.”

Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya .

“Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.”

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.”

by Phei

SENYUMAN YANG TERBAIK (Part. 1)

9:43 pm in Renungan by Phei

Kisah dari salah satu teman yang layak untuk kita renungkan.
“Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah..

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ ditempat itu.

Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.”

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.”

by Phei

PARA WANITA PERKASA

2:22 am in Renungan by Phei

          Teman-teman pernah gak kalian membayangkan seorang wanita yang berusia 50 tahun lebih bekerja mengangkat adukan semen dan menyodorkan batu bata untuk tukang yang akan membangun sebuah gedung atau rumah? Atau pernah gak kalian melihat seorang wanita paruh baya menyapu jalan raya di sebuah kota besar?

          Itulah gambaran yang terlihat di kehidupan nyata akhir-akhir ini. Bagaimana kerasnya suatu kehidupan membuat seorang wanita, bahkan ibu rumah tangga menjadi kuli bangunan dan pekerja kasar. Ada juga sebuah tayangan reality di televisi yang menayangkan seorang ibu tua yang keseharian bekerja sebagai tukang pukul batu, pekerjaan itu terbilang sangat berat tetapi yang didapat oleh si ibu hanya upah Rp.750,- per kilogram batu kali yang ia pecahkan.

          Dalam sehari saja si ibu tersebut hanya bisa mengumpulkan 3-4Kg batu saja. Banyak cerita pilu kaum wanita yang harus sendirian melawan kerasnya dunia, namun ada hal lain dibalik itu yang bisa kita pelajari dan ambil hikmahnya. Yaitu mengenai arti suatu rasa syukur. Kita sendiri sebagai kaum muda kadang juga lupa untuk mensyukuri segala rejeki yang telah kita terima.

          Padahal kalau kita mau melihat dari sudut pandang yang lain, pekerjaan yang kita kerjakan sekarang ini tidaklah sulit, hanya butuh sedikit ketekunan saja untuk mendapatkan hasil lebih. Kita kadang terlalu memandang ke atas saja, sehingga kita lupa untuk melihat ke bawah, ada banyak hal yang bisa kita syukuri dari apa yang telah kita miliki.

          Para wanita pekerja keras itu bisa menjadi contoh bagi kita untuk terus berkarya dan bekerja dengan tekun. Para wanita perkasa yang tidak mengenal lelah untuk terus mencari nafkah bagi keluarga mereka. Bayangkan saja teman bagaimana setiap pagi subuh mereka harus bangun untuk menyiapkan makanan bagi keluarga mereka dan berangkat lagi bekerja memikul barang berat.

          Teman-teman yang mungkin saat ini sedang mengeluhkan pekerjaan yang masih menumpuk atau sedang meratapi hidup yang semakin susah, perlu juga kita sesekali melihat lagi ke bawah, mencoba untuk melihat lagi di sekitar jalanan bahwa masih banyak yang hidupnya jauh lebih sulit daripada kita. Pernyataan ini mungkin sudah sering teman dengar, tetapi kadang juga kita masih lupa untuk melirik ke bawah agar kita bisa mensyukuri hidup kita lagi.

by Phei

Hidup Adalah Pilihan

12:00 am in Renungan by Phei

Teman-teman pernah dengar gak istilah You are the person you choose to be? Yang artinya gak lain adalah kalian menjadi seperti apa yang kalian pilih. Istilah ini sebenarnya punya maksud yang sangat simple dan memberi kesan ringan bagi kita yang membaca istilah tersebut.

Jadi apa yang kita maksud dengan apa yang kita pilih adalah pilihan itu sendiri. Maksudnya begini, pernah gak kalian berada dalam suatu kejadian dimana kalian diharuskan untuk memilih. Contohnya saat ada dua orang yang sedang menyatakan cintanya pada kita, kedua orang tersebut adalah orang-orang yang sama-sama cocok dengan kita, tetapi kita tidak bisa memilih kedua orang itu untuk kita jadikan kekasih.

Nah, pada saat-saat seperti itulah kita harus membuat suatu pilihan. Mungkin kita jadi mempertimbangkan hasil dari setiap pilihan kita, tetapi mau tidak mau kita juga harus bisa menerima hasil dari apapun yang kita pilih. Hal sepertui itulah yang kita maksudkan dengan istilah You are the person you choose to be.

Dalam hidup ini ada banyak sekali pilihan yang harus kita buat, entah dalam urusan pendidikan, keluarga, maupun dalam masyarakat, tetapi ironisnya banyak dari antara kita yang melemparkan kesalahan pilihan yang kita perbuat kepada orang lain. Kita kadang menjadi manusia yang tidak sadar bahwa pilihan kitalah yang menjadi penentu masa depan kita sendiri.

Saat kita memilih untuk mengikuti pergaulan yang tidak benar hal itu sebenarnya kesalahan dari pihak kita sendiri, tetapi karena kita tidak menyadarinya akhirnya kita menuduh bahwa lingkunganlah yang telah merusak kehidupan kita. Hari ini kita pengen mengajak teman-teman semuanya untuk bisa membuat pilihan yang tepat bagi kehidupan kita sendiri. Apapun pilihan yang kita buat harus kita sadari konsekuensinya sejak awal.

Jadi apapun yang kita pilih harus bisa kita terima akibatnya. Baik itu akibat dalam hal ynag buruk maupun akibat yang berbuah kebaikan bagi kita. Jika kita sudah bisa menerima istilah tersebut maka kita bisa benar-benar mensyukuri kehidupan kita yang sekarang, dan kita bisa mulai berhenti menyalahkan orang lain maupun Tuhan yang menyebabkan hidup kita seperti ini. Tuhan memberkati.

by Phei

Suatu Saat…

12:00 am in Renungan by Phei

Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi, haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu. Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.

Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya. Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.

Saat bertemu penolongmu, ingat untuk bersyukur padanya. Karena ialah yang mengubah hidupmu.

Saat bertemu orang yang pernah kau cintai, ingatlah dengan tersenyum untuk berterima-kasih. Karena dialah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.

Saat bertemu orang yang pernah kau benci, sapalah dengan tersenyum. Karena ia membuatmu semakin teguh/kuat.

Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu, baik-baiklah berbincanglah dengannya. Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.

Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai, berkatilah dia. Karena saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia?

Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu, berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu. Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu.

Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu, gunakan saat tersebut untuk menjelaskannya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.

Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup, berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu. Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati

Saat membaca artikel ini… renungkanlah… satu saat semua yang kita miliki harus dilepaskan, gengsi, harga diri, kehormatan,takhta, harta. Sedapat dapatnya kalau semua itu bergantung pada pilihan kita, hiduplah damai dengan semua orang, saling mengasihi, menghormati, menolong…

Kiriman pesan dari seorang sahabat di Facebook.