UE Dan SWITCH-Asia Lakukan Promosi
11:58 pm in Informasi by Yogi Liman
JAKARTA, KOMPAS.com - Para pemangku kebijakan dan praktisi dari Asia Tenggara dan Eropa, bertemu dalam program Switch Asia yang didanai Uni Eropa.
Mereka hendak mempromosikan program konsumsi dan produksi berkelanjutan (SCP). Selama tiga hari, mulai Selasa (25/10/2011) di Jakarta, mereka saling berdiskusi mengenai konsep produksi bersih, ecolabel, standar dan kerjasama industri yang berfokus pada efisiensi sumberdaya.
"Komitmen Uni Eropa terhadap SCP semakin besar. Krisis Ekonomi telah menyadarkan semua bahwa kita sampai pada titik dimana perubahan perlu dilakukan," ucap Julian Wilson, Duta Besar/Kepala Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia.
Dengan mempertemukan berbagai pihak terkait, diharapkan semakin merangsang industri dan Pemerintah dalam mengelola lingkungan serta mempromosikan SCP.
"Dalam upaya mempertahankan standar hidup kita, maka kita harus, paling tidak, mengambil tindakan tegas dalam menentukan siklus hidup produk. Baik desain, produksi, transportasi, pembelian maupun penggunaan, termasuk bagaimana mengelola sampah atau mendaur ulang produk tersebut dengan cara ramah lingkungan," tandas Wilson.
Ia menambahkan, proyek SWITCH-Asia telah membantu banyak usaha kecil dan menengah (UKM) dalam mengakses pengetahuan, pelatihan, dan teknologi untuk mengurangi dampak polusi dari produk maupun proses produksi. Salah satunya adalah proyek Batik Bersih (Clean Batik Initiative Project).
UKM di Yogyakarta didorong menggunakan proses ramah lingkungan, efisien energi dan air, serta bahan pewarna alam. Setelah didampingi dalam berproduksi, UKM ini juga dibantu dalam memasarkan produknya.
Program SWITCH-Asia diluncurkan sejak tahun 2007, dengan dana pada periode 2007-2013 sebanyak 150 juta euro (setara Rp 180 triliun). Program ini merupakan proyek terbesar yang didanai Uni Eropa, dalam mendukung SCP di negara berkembang di seluruh Asia.
HIV/AIDS Sangat Mengkhawatirkan
2:39 am in Informasi by Yogi Liman
JEMBER, KOMPAS.com — Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sudah mencapai angka yang cukup mengkhawatirkan.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, Olong Fajri Maulana, Kamis (20/10/2011), jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) hingga Agustus 2011 lalu sebanyak 513 penderita, dengan kematian sebanyak 65 orang.
Sebanyak 18,5 persen dari ODHA tersebut adalah ibu rumah tangga. Hal ini diungkapkan oleh Olong Fajri Maulana di Jember, Jawa Timur, Kamis, saat rapat koordinasi penanggulangan HIV/AIDS.
Kondisi sangat memprihatinkan ini terjadi karena HIV/AIDS tidak hanya menyerang populasi risiko, tetapi menimpa ibu rumah tangga tertular suami yang telah mengidap HIV/AIDS.
"Angka itu adalah jumlah penderita yang ketahuan. Saya rasa masih ada yang belum terpantau, mereka yang berisiko tertular enggan melakukan pemeriksaan di rumah sakit atau klinik VCT," lanjut Olong.
Untuk menekan angka penderita HIV/AIDS pada tahun 2012, sedianya Komisi Penanggulangan AIDS Jember memprioritaskan sosialisasi kepada penduduk usia 15-24 tahun. Ini menyesuaikan indikator Millenium Development Goals (MDGs) mengenai HIV/AIDS bahwa penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS harus mencapai 75 persen.
Ayo Imunisasi Bayi dan Balita Anda
4:43 pm in Informasi by Yogi Liman
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Selasa (18/10/2011) mencanangkan kampanye imunisasi tambahan campak dan polio 2011. Kampanye imunisasi ini dilangsungkan serentak di 17 provinsi di Indonesia.
Pencanangan kampanye imunisasi tambahan campak dan polio 2011 dilakukan Menteri Kesehatan di Gedung Wanita BKOW DKI Jakarta, Jakarta Timur, dan diisi konferensi lewat video secara langsung dengan lima kepala daerah, antara lain Gubernur Jawa Barat, Gubernur Lampung, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat.
Menteri Kesehatan didampingi Ketua Umum Penggerak PKK dan Gubernur DKI Jakarta. Dalam siaran pers Kementerian Kesehatan RI disebutkan target pemberian imunisasi tambahan campak dan polio tahun 2011 mencapai 15,24 juta bayi dan anak balita.
Jumlah itu diperkirakan mencapai 65 persen dari seluruh bayi dan anak balita di Indonesia. Imunisasi campak diberikan pada bayi dan anak balita usia sembilan sampai 59 bulan sedangkan imunisasi polio diberikan pada bayi dan anak balita usia 0 sampai 59 bulan. Imunisasi tambahan campak dan polio akan dilangsungkan sampai 18 November mendatang.
Satu dari Enam Ponsel Tercemar Kuman Tinja
5:21 pm in Informasi by Yogi Liman
LONDON, KOMPAS.com - Sejumlah peneliti di Inggris menemukan bahwa satu dari enam telepon seluler (ponsel) di Inggris terkontaminasi kuman atau bakteri tinja manusia.
Para ahli mengatakan bahwa alasan yang paling mungkin bakteri yang berpotensi berbahaya mencemari ponsel, karena orang tidak mencuci tangan mereka dengan baik dengan sabun setelah pergi ke toilet.
Penelitian dilakukan ilmuwan dari London School of Hygiene & Tropical Medicine dan Queen Mary, Universitas London, yang disiarkan ScienceDaily Sabtu (15/10/2011) atau Minggu (16/10/2011) WIB itu, juga mengungkapkan kecenderungan di kalangan warga Inggris untuk berbohong tentang kebiasaan kebersihan mereka.
Para peneliti melakukan perjalanan ke 12 kota di Inggris, dan mengambil sampel 390 dari ponsel dan tangan yang dianalisis di laboratorium, untuk mengetahui jenis dan jumlah kuman berkeliaran di sana.
Mereka juga meminta peserta menjawab serangkaian pertanyaan, tentang kebiasaan mereka mencuci tangan.
Penelitian dilakukan sehubungan dengan Hari Cuci Tangan Sedunia yang jatuh pada 15 Oktober. Meskipun 95 persen dari orang yang diteliti mengatakan mereka mencuci tangan mereka dengan sabun, sebanyak 92 persen dari ponsel dan 82 persen dari tangan memiliki bakteri.
Kondisi yang mengkhawatirkan, 16 persen dari tangan dan 16 persen dari ponsel ditemukan Escherichia coli, jenis bakteri yang berasal tinja. Escherichia coli sering dikaitkan dengan gangguan lambung, dan telah terlibat dalam kasus-kasus keracunan makanan serius seperti wabah O157 yang fatal di Jerman pada bulan Juni lalu.
Proporsi terbesar dari ponsel terkontaminasi terjadi di Birmingham (41 persen), sementara London memiliki proporsi tertinggi Escherichia coli hadir pada tangan (28 persen).
Para ilmuwan juga menemukan, mereka yang memiliki bakteri di tangan memiliki kemungkinan tiga kali lebih memiliki bakteri di ponsel mereka.
Ahli kebersihan dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, mengatakan, "Studi ini memberikan lebih banyak bukti bahwa beberapa orang masih tidak mencuci tangan mereka dengan baik, terutama setelah pergi ke toilet. Saya berharap temuan E coli di tangan mereka dan telepon mendorong, mereka untuk lebih berhati-hati di kamar mandi. Mencuci tangan dengan sabun adalah suatu hal yang sederhana untuk dilakukan, tetapi tidak ada keraguan itu menyelamatkan nyawa."
Ron Cutler, dari Queen Mary, Universitas London, menambahkan, "Analisis kami menunjukkan, ini adalah masalah nasional. Orang-orang mungkin mengklaim bahwa mereka mencuci tangan mereka secara teratur, tetapi ilmu pengetahuan menunjukkan sebaliknya."
Bakteri tinja dapat bertahan hidup di tangan selama berjam-jam pada suatu waktu, terutama di suhu hangat jauh dari sinar matahari. Kuman itu mudah ditransfer oleh sentuhan di gagang pintu, makanan, dan bahkan telepon seluler. Kuman lalu dapat berpindah ke orang lain.
Setiap tahun, anak-anak di bawah usia lima tahun meninggal dunia oleh pneumonia dan penyakit diare, yang sebetulnya dapat dicegah dengan tindakan sederhana mencuci tangan dengan sabun.
Di negara maju, mencuci tangan dengan sabun membantu orang untuk mencegah penyebaran infeksi virus, seperti norovirus, rotavirus, dan influenza.
Pemerintah Sediakan Rp 13,5 Miliar
6:55 am in Informasi by Yogi Liman
SOLO, KOMPAS.com — Pemerintah menyediakan dana Rp 13,5 miliar untuk upaya penanggulangan penyakit difteri di Provinsi Jawa Timur menyusul ditetapkannya status kejadian luar biasa (KLB) di provinsi tersebut. Dana ini akan digunakan untuk pemberian vaksinasi dan serum anti-difteri kepada masyarakat di wilayah KLB.
Hal ini dikatakan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih seusai penutupan rapat kerja nasional Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Kota Solo, Jumat (14/10/2011).
"Difteri terjadi antara lain karena cakupan imunisasi rutin yang tidak tinggi sehingga ada daerah-daerah yang menjadi kantong dengan anak-anak yang tidak mendapat imunisasi difteri," kata Endang.
Padahal, menurut Endang, penyakit difteri mudah menular. Hanya melalui percikan air ludah, penyakit sudah dapat menular sehingga anak-anak yang belum mendapat imunisasi akan mudah tertular dan bisa langsung meninggal dunia.
Sebanyak 34 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur sejak 7 Oktober lalu dinyatakan KLB difteri. Sejak awal tahun 2011, sudah 11 orang meninggal dunia akibat difteri di provinsi ini. Hanya empat kabupaten di Jawa Timur yang bebas difteri, yakni Pacitan, Ngawi, Trenggalek, dan Magetan.