Kisah Sukses Helen Keller “Menyulap Kelemahan Menjadi Kekuatan”

Tidak ada satupun manusia didunia ini yang tidak memiliki kelemahan, namun jangan sampai terlena dengan kelemahan anda dan tidak berubah menjadi lebih baik. Kebanyakan orang mencoba untuk berubah dengan tujuan menyenangkan orang lain atau untuk menyesuaikan diri agar dapat diterima di lingkungan tertentu, namun anda harus memahami bahwa perubahan awalnya dilakukan untuk kebaikan diri kita sendiri. Untuk merubah kelemahan yang dimiliki, kita harus mengerti kelemahan kita terlebih dahulu. Ketika kita sudah mengenal kelemahan kita, dekati dan pelajari sehingga setelahnya kita dapat mengubahnya menjadi lebih baik. Hal ini berhasil dilakukan oleh Hellen Keler, ilmuwan yang ketika memasuki umur 19 bulan terserang penyakit yang membuatnya buta dan tuli. Dibantu oleh Anne Sullivan sebagai guru dan mentor, ia belajar bagaimana membaca dan berbicara dengan bahasa isyarat, bahkan menguasai Bahasa Perancis, Jerman, Yunani dan Latin lewat braille. Di usianya yang ke-20 ia berhasil masuk Universitas Harvard dan lulus empat tahun setelahnya dengan gelar magna cumlaude. Hellen Keller menjadi penyandang cacat yang merubah kelemahannya menjadi kekuatan bahkan ia berhasil mengeluarkan 12 buku dan beberapa artikel yang banyak membantu manusia.

Helen Adams Keller (lahir di Tuscumbia, Alabama, 27 Juni 1880 – meninggal di Easton, Connecticut, 1 Juni 1968 pada umur 87 tahun) adalah seorang penulis, aktivis politik dan dosen Amerika. Ia menjadi pemenang dari Honorary University Degrees Women’s Hall of Fame, The Presidential Medal of Freedom, The Lions Humanitarian Award, bahkan kisah hidupnya meraih 2 piala Oscar[1]. Ia menulis artikel serta buku-buku terkenal, diantaranya The World I Live In dan The Story of My Life (diketik dengan huruf biasa dan Braille), yang menjadi literatur klasik di Amerika dan diterjemahkan ke dalam 50 bahasa. Ia berkeliling ke 39 negara untuk berbicara dengan para presiden, mengumpulkan dana untuk orang-orang buta dan tuli. Ia mendirikan American Foundation for the Blind dan American Foundation for the Overseas Blind.

Ia lahir normal di Tuscumbia, Alabama pada 1880. Di usia 19 bulan, ia diserang penyakit yang menyebabkannya buta dan tuli. Ia menjadi frustasi karena kesulitas berkomunikasi, sering marah, dan sulit diajar. Pada usia 7 tahun, orang tuanya mempercayai Anne Sullivan menjadi guru pribadi dan pembimbing Hellen. Anne memegang tangan Helen di bawah air dan dengan bahasa isyarat, ia mengucapkan “A-I-R” pada tangan yang lain. Saat Helen memegang tanah, Annie mengucapkan “T-A-N-A-H” dan ini dilakukan sebanyak 30 kata per hari. Helen diajar membaca lewat huruf Braille sampai mengerti apa maksudnya. Helen menulis, “Saya ingat hari yang terpenting di dalam seluruh hidup saya adalah saat guru saya, Anne Mansfield Sullivan, datang pada saya.” Dengan tekun, Annie mengajar Helen untuk berbicara lewat gerakan mulut, sehingga Helen berkata, “Hal terbaik dan terindah yang tidak dilihat atau disentuh oleh dunia adalah hal yang dirasakan di dalam hati.” Ia belajar bahasa Perancis, Jerman, Yunani dan Latin lewat Braille. Pada usia 20 tahun, ia kuliah di Radcliffe College, cabang Universitas Harvard khusus wanita. Annie menemani Hellen untuk membacakan buku pelajaran, huruf demi huruf lewat tangan Helen dalam huruf Braille. Hanya 4 tahun, Helen lulus dengan predikat magna cum laude. Dia adalah orang tuna rungu dan tuna netra pertama yang lulus dari universitas.

Pada tahun 1914, Helen Keller berkeliling Amerika untuk menjadi aktivis, konselor, maupun dosen terutama untuk anak-anak yang memiliki keterbatasan seperti dirinya. Dengan didampingin Anne Sullivan, dia juga mengunjungi para tentara di sekeliling Eropa yang terlibat Perang Dunia II.

Pada tahun 1923, Helen menjadi juru bicara bagi American Foundation for the Blind dan mengurus penggalangan dana, serta pengembangan sistem pendidikan yang lebih baik bagi penderita keterbatasan fisik. Ketika Anne Sullivan meninggal pada tahun 1936, Helen tetap meneruskan pekerjaannya dengan didampingi Polly Thomson, seorang sekretaris dan teman Helen.

Image : https://culturacientifica.com

Leave a Reply