Kisah Sukses Mr. Kalend Osen “Jangan Lupa Bersyukur”

Bersyukur selalu  menjadi kunci kesuksesaan, bersyukur yang dimaksud disini ialah rasa syukur yang tidak hanya dirasakan ketika kita mendapat berkah tapi juga pada saat musibah namun sayangnya manusia masih sering lupa untuk melakukannya. Padahal ketika kita sudah bisa merasakan rasa syukur terlebih pada saat musibah maka sebetulnya kita telah bisa menerima kesuksesaan lebih besar yang akan datang. Menurut Lisa R. Yanek peneliti dari Johns Hopkins University School of Medicine, pemikiran dan sikap yang positif dapat mempengaruhi kinerja manusia untuk lebih mengedepankan integrasi dalam tujuan. Selain rasa syukur jangan lupa untuk selalu jujur karena walaupun terdengar mudah namun sangat sulit untuk dilakukan oleh manusia. Padahal kejujuran sangat dibutuhkan dan dicari oleh manusia, dengan memegang kejujuran siapapun pasti bisa menjadi berhasil dalam bidang apapun.

Beliau dilahirkan dari keluarga yang taat agama. Mr. Kalend tak ubahnya seperti pemuda kebanyakan di desanya. Mayoritas penduduk di desanya mengandalkan pasokan utama rejekinya sebagai petani ladang dan buruh hutan. Demikian pula dengan Mr. Kalend. Pemuda asal Kutai, Kartanegara, Kalimantan Selatan ini juga bekerja sebagai buruh di belantara hutan. Kemudian beliau mendapatkan kesempatan berpindah kerja dan akhirnya bergabung sebagai karyawan di DBTC (Daya Besar Timber Cooperation) yakni perusahaan yang dimiliki oleh bos asa malaysia.

Meski hanya berasal dari keluarga yang sederhana, beliau mempunyai asa untuk memperbaiki nasib hidupnya. Beliau lalu memutuskan dan bertekad berhijrah dari Pulau Kalimantan ke Pulau Jawa untuk menuntut ilmu. Pada saat itu, Mr. Kalend hanya mempunyai uang Rp18.000. tetapi berkat sumbangan teman dan saudara, akhirnya uang pun terkumpul menjadi Rp100.000. Pada tahun 1972 resmi berhijrah ke tanah Jawa.

Di Jawa, Mr. Kalend menuntut ilmu di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Di tempat ini pula Mr. Kalend menapaki awal revolusi hidup. Beliau termasuk santri yang paling tua diantara teman-teman seangkatannya. Pada saat itu beliau berumur 27 tahun sementara umur teman-teman sekelasnya masih berkisar 12-14 tahun. Termasuk ustadz-ustadz yang mengajarnya pun banyak yang lebih muda darinya. Awal mula, Mr. Kalend merasa kesulitan beradaptasi. Beliau berpikir, betapa sulitnya belajar Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Hanya niat yang tulus yang menjadikannya tetap bersemangat. “Dalam menuntut ilmu tidaklah mengenal kata terlambat.” Kata beliau.

Dalam prosesnya, terpaan masalah ekonomi keluarga membuat cita-citanya untuk menuntut ilmu menjadi terhambat. Keluarga tak lagi mampu membiayai kebutuhan Mr. Kalend. Akhirnya langkahnya untuk menuntut ilmu di Pondok Darussalam terhenti hanya sampai kelas 5. Sebelum keluar dari Gontor, beliau mendapat kabar dari dua temannya bahwa di Pare ada seorang Kyai yang menguasai 9 bahasa asing. Beliau adalah KH. Ahmad Yazid, pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah, Singgahan, Pare, kediri. Walaupun Mr. Kalend tidak bisa mondok di Gontor sampai lulus karena hambatan ekonomi, beliau tidak menyesal. Beliau juga merasa beruntung bisa menemukan tempat menimba ilmu di Pare. Berbekal ilmu secukupnya yang beliau dapat dari Pondok Gontor, beliau memutuskan untuk nyantri kepada Kyai Yazid dan fokus belajar Bahasa Inggris.

Pada tahun 1977, Mr. Kalend mendapat saran dari beberapa muridnya agar mendirikan tempat belajar Bahasa Inggris yang bersifat formal atau semacam kursusan. Akhirnya pada tanggal 15 Juli 1977 beliau mendirikan tempat kursus Bahasa Inggris yang bernama Basic English Course. Berawal dari kursusan yang didirikan oleh Mr. Kalend terebut, kemudian berdirilah tempat kursusan-kursusan lain yang dimana pendiri kursusan-kursusan tersebut tak lain adalah murid-murid Mr. Kalend yang sudah lulus dari Basic English Course.

Image : http://www.merdeka.com

Leave a Reply