Kisah Sukses Emha Ainun Najib “Proaktif Dan Progresif”

Dalam era ini manusia dituntut untuk aktif dalam berjuang karena semakin hari semakin banyak orang yang berpotensi. Untuk menjadi aktif manusia tidak perlu mengeluarkan uang yang penting dibutuhkan ketelatenan dan disiplin dalam berbagai hal. Dibawah ini merupakan beberapa tips yang dapat mendorong anda untuk bergerak dan berpikir secara aktif:

1. AKTIF DIMULAI DARI HAL YANG SEDERHANA

Segala kegiatan yang aktif dapat dilakukan mulai dari hal sepele, kecil dan sederhana yang sering kali menjadi keseharian kita.

2. AKTIF MUNCUL SECARA ALAMI TIDAK DIPELAJARI

Orang yang aktif seringkali memiliki karakter yang kuat, mereka dengan mudah dapat bersosisalisasi dengan masyarakat. Aktif bukan merupakan hal yang dipelajari namun dilakukan dan akan semakin tertunjang dengan ilmu pengetahuan, informasi, pengalaman dan diskusi.

3. AKTIF MENGKOMBINASIKAN PIKIRAN DAN TINDAKAN YANG POSITIF

Untuk membuat diri kita aktif maka diperlukan pikiran dan tindakan positif yang pada akhirnya dapat mencerminkan diri di masyarakat.

Untuk aktif melakukan kegiatan positif maka ciptakan lingkungan kerja dan tempat tinggal yang positif. Emha Ainun Najib atau yang akrabnya sering disapa Cak Nun merupakan kelahiran Jombang yang menjadi orang proaktif dan progresif bagi masyarakat maupun bangsa ini. Ia selalu menjadi tempat bagi masyarakat yang merasa pemimpin tidak lagi mau mendengarkan keluhan rakyatnya. Keaktifannya yang positif membantu banyak orang disekelilingnya.

Emha merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Darussalam Gontor setelah melakukan ‘demo’ melawan pimpinan pondok karena sistem pondok yang kurang baik, pada pertengahan tahun ketiga studinya. Kemudian ia pindah ke Yogyakarta dan tamat SMA Muhammadiyah I. Istrinya yang sekarang, Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi. Sabrang Mowo Damar Panuluh adalah salah satu putranya yang kini tergabung dalam grup band Letto.

Lima tahun ia hidup menggelandang di Malioboro, Yogyakarta antara 1970–1975, belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha. Masa-masa itu, proses kreatifnya dijalani juga bersama Ebiet G Ade (penyanyi), Eko Tunas (cerpenis/penyair), dan EH. Kartanegara (penulis).

Selain itu ia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Emha juga pernah terlibat dalam produksi film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2011), skenario film ditulis bersama Viva Westi.

Image : http://mozaik.inilah.com

Leave a Reply