Kisah Sukses Bai Fang Li “Jadilah Dermawan”

Sifat dermawan merupakan sifat mulia bagi insan manusia yang perlu dimiliki untuk menjadi orang yang sukses. Untuk menjadi dermawan manusia tidak harus menunggu banyak uang karena aktivitas kedermawanan sesungguhnya hanya perlu dilandasi oleh niat luhur manusia untuk berkontribusi dalam menciptakan perubahan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi lingkungan sekitar. Menariknya tidak ada orang dermawan didunia ini yang hidupnya berkekurangan karena sikap ini membawa kita kedalam pintu kesuksesaan.

Bai Fang Li merupakan kisah dari China yang memberi pelajaran dan panutan dalam hidup. Pasalnya kebanyakan orang baru mau bersikap dermawan ketika sudah mapan atau memiliki harta yang melimpah, tetapi berbeda dengan Bai Fang Li yang memiliki profesi sebagai tukang becak namun dapat menjadi penyumbang ratusan juta bagi yatim piatu. Ia menjalani hidupnya secara sederhana dengan semangat yang tinggi, pergi pagi pulang malam untuk mencari penumpang dan hampir tak pernah membeli makan untuk dirinya sendiri. Makanan biasanya ia dapatkan dari memulung, begitu pula dengan pakaian yang dipakai. Walaupun uang hasil kerjanya dapat menghidupi dirinya namun ia lebih memilih menggunakan uangnya untuk disumbangkan ke yayasan yatim piatu yang mengasuh 300 anak tak mampu. Berkat sikapnya yang dermawan banyak anak yatim piatu yang mendapatkan makanan bersih dan bergizi.

Bai Fangli (Cina: 白方礼; pinyin: Bai Fānglǐ) adalah sopir Cina becak dan dermawan di Tianjin yang menyumbangkan 350.000 yuan (US$ 54,958 pada tahun 2015) selama rentang 18 tahun agar lebih dari 300 siswa miskin untuk melanjutkan studi mereka.

Di tahun 1986 – 1987, pada usia 74, Bai pensiun dari pekerjaannya mengemudi becak dan kembali ke kampung halamannya di provinsi Hebei yang mana ia memutuskan untuk menjalani hidupnya. Dalam perjalanan kembali, ia menyaksikan banyak anak-anak yang bekerja di bidang. Belajar bahwa mereka harus putus sekolah karena kesulitan keuangan ia memutuskan untuk kembali ke pekerjaannya mengemudi becak di Tianjin untuk mendukung anak-anak dalam menerima pendidikan. Namun, sebelum akhirnya kembali bekerja pertama ia menyumbangkan 5.000 yuan (US$ 785 pada tahun 2015) untuk penyebab biaya mereka. Sampai sekarang 2001, ia sering bekerja shift panjang, kadang-kadang 24 jam di sebuah peregangan sehingga dia bisa membuat uang untuk membayar angsuran biaya sekolah. Ia mendapat akomodasi dekat dengan jalur kereta api dan akan menunggu 24 jam sehari, makan makanan sederhana dan mengenakan pakaian tangan kedua dibuang. Ia juga tinggal di sebuah rumah yang suram di pinggiran kota Tianjin dan makan makanan rendah hati, menurut media lokal. Pada tahun 1996, ia membuka sebuah toko kecil di dekat Stasiun kereta api Tianjin untuk membuat lebih banyak uang. Sebagian besar pendapatannya disumbangkan ke sekolah-sekolah dan Universitas seperti Universitas Teknologi yang mana ia menyumbangkan 35.000 yuan (US$ 5,498 pada tahun 2015) untuk pertama kalinya pada tahun 1996. Kontribusinya seluruh disimpulkan hingga 350.000 yuan. Pada tahun 2001, pada usia 90, ia membayar angsuran terakhir ke Yaohua High School dan pensiun dari pekerjaannya.

Pada Mei 2005, Bai dikirim ke rumah sakit, mana ia ditemukan memiliki kanker paru-paru. Ia telah di dalam keadaan koma selama sekitar 20 hari sebelumnya. Akhirnya kesehatannya memburuk dan ia meninggal pada tahun yang sama pada usia 93.

Image : https://alchetron.com

Leave a Reply