Sistem Manajemen Yang Menghancurkan Bisnis Anda Bagian 2 Dari 2

Sistem Manajemen Yang Menghancurkan Bisnis Anda Bagian 2 Dari 2

Merekrut Karyawan yang Tidak Kompeten Untuk Menjaga Posisi

Memiliki karyawan yang kompeten tentu saja menguntungkan perusahaan karena dapat menjamin kualitas kerja dan produk yang dihasilkan akan menjaga kesinambungan perusahaan. Akan berbeda jika perusahaan sengaja merekrut karyawan yang tidak kompeten dibidangnya dengan tujuan mempertahankan posisi orang-orang tertentu dalam perusahaan.

Kejadian ini pernah terjadi di salah satu perusahaan ritel perhiasan mewah di Indonesia. Pemilik kesulitan mengontrol record manajemen perusahaan karena terlanjur percaya dengan pimpinannya saat ini yang terkesan hebat diantara karyawan yang ada. Padahal hal ini sengaja diciptakan untuk mengamankan posisi pimpinan dalam perusahaan. Akhirnya setiap laporan perkembangan perusahaan tidak bisa direspons sang pemilik saham sesuai porsinya karena berbeda dengan kejadian lapangannya. Jika kondisi ini tidak segera dibenaai maka nasib perusahaan akan jadi taruhannya.

Pihak Eskternal yang Menyetir Perusahaan

Kejadian ini terjadi di salah satu perusahaan konsultan manajemen terkenal yang berlokasi di Kuningan, Jakarta Selatan, Indonesia. Hari itu rekrutmen untuk posisi manajer Human Resource baru saja didapat. Jajaran pimpinan perusahaan yang merasa satu visi dengan manajer baru memberi garansi bahwa perubahan dalam organisasi perusahaan mutlak dilakukan terutama untuk SDM perusahaan. Rancangan strategi yang telah digodok dan secara perlahan diterapkan mendapat rintangan. Awalnya tantangan ini datang dar kalangan manajemen level bawah dan menengah yang masih bisa dikendalikan. Namun masalah utama kemudian muncul dari pihak eksternal manajemen perusahaan yang merasa punya andil besar dalam merintis perusahaan sejak awal. Sekalipun tidak masuk dalam struktur formal perusahaan, namun pengaruhnya kuat dalam kalangan top manajemen. Saat sang manajer meminta dilakukan rapat dengan pimpinan, dirinya hanya mendapati ketidakberdayaan jajaran manajemen perusahaan. Mereka membisu dibawah tekanan, justru manajer ini kemudian menjadi sasaran tembak dan dianggap tidak memahami filosofi perusahaan. Merasa dijerumuskan, manajer ini kembali menemui pemimpin yang merekrutnya dulu, ia menagih komitmen pemimpinnya yang dahulu. Akan tetapi, sang pemimpin justru berkelit dan menyarankan agar manajer ini mengundurkan diri. Mendengar perkataan ini sang manajer langsung mengundurkan diri pada saat itu juga.

Kejadian ini memang sulit dipahami, apalagi untuk perusahaan konsultan yang telah memiliki nama. Produk konsultan yang dijual mahal untuk membenahi perusahan-perusahaan klien menuju good corporate governance, justru tidak dipraktikan di perusahaanya sendiri.

Sapaan Keluarga di Lingkungan Kantor

Sikap profesional menjadi hal yang krusial dalam perusahaan termasuk perusahaan milik keluarga. Namun sangat disayangkan ketika hubungan keluarga secara transparan diperlihatkan di lingkungan kerja dengan membawa penyebutan “om” atau “tante”. Walaupun ini dapat terus mendekatkan karyawan dengan hubungan darah, namun karyawan lain diluar lingkar keluarga tentu akan merasa kurang nyaman. Apalagi jika penyebutan ”om” “tante” terbawa masuk dalam rapat kantor atau dengan pihak luar perusahaan. Hal ini akan memunculkan kesan yang tidak profesional dan akan meruntuhkan kredibilitas perusahaan, baik secara internal maupun eksternal.

 

Image: Bigstockphoto.com

Leave a Reply