Pelayanan Yang Menghancurkan Bisnis Anda Bagian 5 Dari 5

Pelayanan Yang Menghancurkan Bisnis Anda Bagian 5 Dari 5

Membodohi Pelanggan

Kejadian ini terjadi di Jakarta, ketika terdapat pelanggan berumur lanjut hendak membeli handphone di Atrium Senen. Pelanggan ini kemudian tampak sibuk membolak-balikan brosur untuk memastikan produk yang pas untuk kebutuhan mereka. Banyaknya varian produk saat ini semakin membikin bingung, bahkan bagi yang melek teknologi. Tidak lama berselang, pelanggan ini tampak didekati oleh salah seorang wiraniaga, pelanggan ini diberi beberapa brosur dan diarahkan untuk mencoba beberapa produk dummy. Singkat cerita, ketika kembali ke mobil keluarganya menanyakan harga handphone yang dibeli oleh pelanggan. Ketika diberi tahu harga handphone ini mencapai harga Rp. 3.850.000, sontak membuat keluarga terkejut karena harganya terlalu mahal untuk handphone dengan tipe tersebut. Bahkan salah satu anaknya bertaruh bahwa harga tersebut hampir dua kali lipatnya. Melihat keyakinan tersebut salah satu anaknya kembali berputar ke Atrium. Sayangnya saat tiba di lokasi, mereka tidak dapat menemui wiraniaga yang tadi melayani. Karyawan lain berupaya menyangkal bahwa mereka salah konter dan tidak ada ciri-ciri wiraniaga yang disebutkan. Beruntung kwitansi dan kantong plastik HP masih disimpan, sehingga membuat karyawan dalam toko ini tidak berkutik. Karyawan toko akhirnya menawarkan uang kembalian dengan alasan kesalahan entry. Karena terlanjur kesal, pelanggan akhirnya memutuskan untuk membatalkan transaksi dan saat pulang pelanggan tersebut mengakui kalau wiraniaga yang telah menipunya ada ditempat, hanya diminta menghindar oleh karyawan lain.

Sekilas pemilik konter terlihat meraup untung yang berlebih, namun seperti kata pepatah “sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga”. Jika kejadian ini terus menerus dilakukan perusahaan, akan banyak keluhan yang tersebar dan malah akan menjatuhkan perusahaan sendiri.

Harga “Nembak”

Kisah ini terjadi di Makasar, ketika ada seorang pelanggan makan bersama beberapa temannya di warung tenda dekat lokasi hotel. Sekitar 45 menit, mereka akhirnya memutuskan untuk membayar dan pergi. Namun ketika hendak membayar, mereka kaget karena dengan sedikitnya makanan yang dipesan totalnya mencapai Rp. 575.000. Pelanggan ini menanyakan kepada penjual akan kemungkinan kesalahan penghitungan, namun penjual meyakinkan bahwa harga yang diberikan wajar karena harga kebutuhan sehari-hari tengah melonjak. Tidak mau berpanjang lebar, pelanggan tersebut membayar dan pergi. Kedua rekan pelanggan yang sepintas mendengar percakapan tersebut berusaha mencari tahu dan setelah dijelaskan tidak butuh waktu lama untuk salah satu rekan kerja pelanggan mengkomplain dengan logat Makasar kepada penjual. Merasa terpojok sang kasir berupaya meredakan suasana dengan mengakui kalau pelayannya salah hitung dan berupaya mengembalikan uang pelanggan. Dalam perjalanan pulang, pelanggan ini berkesimpulan bahwa apa yang telah dialaminya adalah modus penipuan. Sangat kecil kemungkinan mereka salah hitung, sebab pada saat itu pengunjung yang ada hanya mereka bertiga.

Dapat dibayangkan jika kejadian ini terus menerus berlanjut dan menimpa banyak pelanggan, mereka yang merasa tertipu tidak akan kembali lagi dan kejelekan perusahaan akan tersebar yang menyebabkan penjual dapat gulung tikar.

 

Image: Mebiso.com