Mindset Yang Menghancurkan Bisnis Anda Bagian 1 Dari 3

Mindset Yang Menghancurkan Bisnis Anda Bagian 1 Dari 3

Keyakinan dan cara pikir dapat mempengaruhi tindakan-tindakan kita, termasuk dalam dunia bisnis. Dalam bisnis cara bepikir yang dapat merugikan banyak pihak harus dihindari, agar basis kepercayaan yang dibangun dengan susah payah tidak luntur dan melukai kredibilitas perusahaan.

Pelayanan Hanya Tugas Customer Service

Pelayanan merupakan kunci terpenting dalam perusahaan, terutama dalam bidang industri jasa. Sayang dalam pelaksanannya sering kali tidak dijalankan dengan baik. Hal ini pernah terjadi di salah satu perusahaan ekspedisi, ketika seorang pelanggan menelepon untuk menanyakan kabar paketnya yang berisi dokumen penting karena, sudah lewat dari waktu yang dijanjikan oleh perusahaan. Mungkin karena pelanggan menelepon terlalu pagi, telepon yang masuk bukan ke customer service namun teralih ke back office. Karyawan back office yang merasa terpojok akhirnya membela diri dengan nada tinggi bahwa hal ini merupakan tugas customer service bukan bagian Akuntan.

Namun hal ini malah tidak membuat pelanggan merasa tenang karena dalam kacamata pelanggan mereka tidak peduli tugas siapa yang menangani pertanyaan, yang diinginkan hanya solusi tepat atas keluhan mereka. Jika lempar-lemparan tugas terus terjadi dalam perusahaan, maka akan banyak pelanggan yang kabur.

Terlalu Percaya Pada Pelanggan

Kasus ini sering terjadi dalam permasalahan kartu kredit, dimana banyak bank menerbitkan kartu kredit hanya berdasarkan calon pelanggan pernah memiliki kartu kredit sebelumnya atau tidak. Tanpa melihat lebih detail mengenai kebenaran data yang disampaikan oleh calon pelanggan.

Jadi tidak bisa disalahkan jika banyak tunggakan kartu kredit dengan identitas yang sulit dilacak karena ketidak jelasannya. Hal ini juga dikarenakan pihak bank seolah-olah terlalu percaya dengan calon pelanggan. Kondisi ini tidak akan menguntungkan pihak bank jika semakin banyak pelanggan yang tidak memiliki identitas jelas, walaupun tujuan awalnya ingin memudahkan calon pelanggan.

Membangun Bisnis Sendiri Dengan Memanfaatkan Klien Perusahaan

Kasus ini terjadi di salah satu badan usaha milik pemerintahan, mengeluh karena anak perusahaan yang dibangun dengan harapan mendapat untung besar, ternyata dimanfaatkan oleh beberapa karyawannya sebagai peluang untuk mengembangkan bisnis pribadi mereka. Klien tetap perusahaan yang seharusnya menggunakan jasa anak perusahaan, dialihkan untuk menggunakan jasa bisnis pribadi beberapa karyawan ini. Ibarat benalu pada pohon, perusahaan akhirnya lambat laun tergerogoti hingga banyak kliennya beralih. Hasilnya perusahaan semakin lama semakin mendekati kehancuran.

Mengunggulkan Produk Pesaing Dibanding Produk Sendiri

Kejadian ini terjadi ketika ada salah seorang pelanggan mengunjungi salah satu konter CDMA untuk menanyakan berbagai fitur dan keunggulan provider. Bukannya menjelaskan kelebihan provider sendiri, SPG ini justru menjelek-jelekan provider-nya sendiri dan malah mengunggulkan provider lainnya. Menanggapi kejadian seperti ini harusnya perusahaan lebih selektif dalam merekrut SPG, agar berperilaku professional dalam berjualan. Jika hal ini dibiarkan akan banyak pelanggan yang kabur ke tempat lain.

Inside Out

Banyak bisnis yang harus gulung tikar karena asyik dengan dirinya sendiri (inside out), hal ini terjadi di salah satu perusahaan keluarga yang kolaps setelah 3 generasi. Padahal beberapa dekade sebelumnya bisnis mereka menjadi inspirasi bagi usahawan lain. Sayangnya keadaan ini malah memanjakan generasi penerusnya. Mereka terlalu bangga dengan kesuksesannya sehingga tidak melihat keluar kembali, mereka hanya sibuk melihat kedalam perusahaan dan tidak melihat selera konsumen yang berubah setiap waktunya. Akibatnya pelanggan perusahaan pergi satu per satu dan beralih ke pesaing yang lebih agresif dengan karyawan yang lebih muda dan jaringan yang lebih luas. Perusahaan ini baru menyadari ketika bisnisnya terlanjur tua dan sakit sehingga tidak ada pilihan lagi selain menutup usaha.

Dalam dunia bisnis, tidak ada tempat bagi mereka yang tidak mau belajar dalam melihat realitas pasar dan konsumen. Perusahaan harus lincah dan responsive dengan keadaan, tidak terlena dalam kejayaan yang berujung pada kehancuran.

 

Image: Sylviabrowder.com