Dokter di Indonesia Siap Hadapi MEA

JAKARTA, KOMPAS.com – Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) membuka peluang yang lebih luas untuk tenaga kerja asing bekerja di Indonesia, begitu juga sebaliknya. Di sektor kesehatan, MEA dapat dimanfaatkan oleh dokter, dokter gigi, hingga perawat.

Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Kesehatan, Usman Sumantri mengatakan, para dokter di Indonesia pun tak perlu takut bersaing di era MEA.

“Mengenai kompetensi dokter di Indonesia, kalau saya lihat, kita sudah punya standarisasi internasional yang cukup bagus. Jadi dokter enggak usah takut,” kata Usman di sela-sela Diskusi Panel Dies Natalis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ke-67 di Gedung Aula FKUI, Jakarta, Rabu (8/2/2017).

Era MEA dapat menjadi tantangan untuk terus meningkatkan mutu pendidikan sekaligus kompetensi bagi tenaga kesehatan di Indonesia.

Usman mengatakan, pemerintah pun memiliki regulasi domestik untuk dokter asing bisa bekerja di Indonesia. Dokter asing tersebut nantinya harus melewati uji kompetensi sesuai standar untuk mendapatkan izin bekerja.

Pemerintah juga menyiapkan beberapa regulasi untuk melindungi dokter Indonesia dari serbuan dokter asing. Misalnya, untuk dokter asing berpraktik perlu pendampingan dokter dalam negeri.

Dokter asing yang bekerja, sejatinya juga memiliki keahlian lebih yang belum dimiliki banyak dokter di Indonesia.

Menurut Usman, yang ditakutkan justru bukan hanya serbuan dokter asing, tetapi banyaknya dokter di Indonesia yang malah bekerja di luar negeri.

“Yang kita takut kalau dokter spesialis kita ke luar negeri. Padahal kita juga butuh. Banyak daerah yang belum ada dokter spesialis,” tutur Usman.

Menanggapi persaingan di era MEA, Dekan FKUI Ratna Sitompul menegaskan para lulusan FKUI siap menghadapinya. FKUI merupakan salah satu fakultas kedokteran dengan akreditasi A dan sebanyak 94 persen dokter lulus uji kompetensi tiap tahunnya.