Cacar Ular, Penyakit yang Timbulkan Nyeri Hebat


KOMPAS.com – Cukup banyak penyakit yang mengancam kesehatan orang lanjut usia, salah satunya adalah cacar ular atau Herpes Zoster (HZ). Walaupun tidak menyebabkan kematian dan tidak menular, rasa nyeri yang ditimbulkan bisa membuat penderitanya sangat tersiksa.

Herpes Zoster atau kerap disebut sebagai cacar ular dan cacar api adalah penyakit saraf yang mayoritas menyerang orang berusia 45 tahun ke atas.

“HZ ini muncul karena reaktivasi virus penyebab cacar air (varicella-zoster) yang tinggal pada gangleon manusia. Ketika sistem imun turun, terutama pada usia tua, seseorang dapat terkena HZ,” ungkap dr. Edy Rizal Wahyudi, SpPD, konsultan Geriatri pada seminar media bersama Merck Sharp & Dohme (MSD) di Jakarta, Selasa (30/9/14).

Biasanya, penderita HZ akan mengalami nyeri yang luar biasa pada bagian punggung atau muka, diikuti dengan munculnya ruam pada kulit. Disebut cacar ular, karena ruam yang timbul akan membuat kulit manusia seperti sisik ular.

“Rasa nyeri ini sangat sakit. Nenek saya pernah terkena HZ. Setiap kali nyerinya kambuh, dia bisa sampai keluar air mata,” kata dr. Edy.

Nyeri tersebut datang sebelum dan sesudah HZ muncul. Menurut Dr.dr. Andradi Suryamiharja, ahli saraf RS Graha Kedoya, rasa nyeri sebelum muncul ruam HZ cenderung lebih hebat dan terjadi berulang kali.

Kesakitan yang dialami penderita HZ dapat memengaruhi kondisi psikologisnya, seperti salah satu pasien dr. Edy yang membuat sebuah surat permintaan untuk mengakhiri hidupnya, lengkap dengan tanda tangan anak-anaknya.

Rasa nyeri itu sendiri akan memengaruhi banyak aspek dalam hidup penderitanya. “Mereka akan mengalami rasa cemas, depresi, susah tidur, tidak mau makan, dan aktivitas sosialnya menurun,” papar dr.Adriadi.

Komplikasi

Komplikasi HZ yang paling umum adalah Neuragial Pasca Herpes, yakni rasa nyeri yang timbul setelah HZ hilang. “Ada yang mengalaminya selama 3 bulan semenjak ruamnya hilang. Ada pula yang bertahun-tahun, bahkan sampai seumur hidup,” tukas Dr. Andradi.

Ia juga mengatakan HZ bukan hanya menyerang sistem sensorik manusia, tapi berpotensi untuk menganggu sistem motorik.

“Komplikasi dari HZ dapat menyerang saraf, kulit, mata, dan organ dalam tubuh,” kata dr. Edy.
Bila HZ sudah menyerang kornea mata, penglihatan akan menjadi terganggu karena mata yang keruh pascapenyakit.

Ada pula beberapa faktor pada seseorang yang punya risiko lebih besar mengalami NPH. “Bila dia sudah berusia 60 tahun ke atas, ber jenis kelamin wanita, menderita diabetes melitus, atau punya rasa cemas berlebih,” tutur dr. Andradi.

Tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan herpes zoster, karena virus cacar air sudah menetap dalam sistem saraf. Tetapi pemberian vaksinasi bisa mengurangi risiko timbulnya penyakit ini.

Continue reading


Deteksi Dini Kanker Payudara


Kanker payudara terjadi ketika ada pertumbuhan sel abnormal yang cepat pada payudara, bermula dari sistem saluran kelenjar susu yang kemudian tumbuh menyusup ke bagian lain melalui pembuluh darah dan getah bening hingga menyerang ke seluruh bagian tubuh (metastasis).

Kanker payudara umumnya ditandai dengan adanya benjolan pada payudara. Namun jangan keburu khawatir jika ditemukan benjolan pada payudara, karena tidak semuanya berarti kanker dan kebanyakan bersifat jinak (tumor). Meski demikian, jika ditemukan benjolan pada payudara sebaiknya tetap waspada dan secepatnya dipastikan apakah benjolan tersebut bersifat jinak (tumor) atau kanker. Semakin cepat kanker terdiagnosis, keberhasilan pengobatan akan semakin besar.

Oleh karena itu, penting bagi wanita untuk melakukan deteksi dini kanker payudara dengan tujuan mendeteksi kanker sedini mungkin agar lebih mudah ditangani. Diperkirakan 95% wanita yang terdiagnosis pada tahap awal kanker payudara dapat bertahan hidup lebih dari 5 tahun. Deteksi dini dilakukan sebelum munculnya tanda atau gejala yang mencurigakan adanya kanker payudara.

Banyak dokter yang merekomendasikan kepada wanita untuk melakukan deteksi dini kanker payudara melalui SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) secara rutin, sebulan sekali sejak usia 20 tahun.

SADARI dapat membantu memeriksa kondisi payudara apakah terdapat benjolan atau perubahan lainnya yang dapat menjadi tanda terjadinya tumor atau kanker payudara yang membutuhkan perhatian medis. SADARI sebaiknya dilakukan 1 minggu setelah periode menstruasi dimulai, yakni ketika payudara sedang mengendur dan terasa lebih lunak.

Jika mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur atau telah mengalami menopause atau pengangkatan rahim, SADARI sebaiknya dilakukan pada tanggal yang sama tiap bulannya. Sementara untuk ibu menyusui, SADARI dapat dilakukan setelah menyusui atau memompa ASI.

Terdapat 3 langkah penting untuk melakukan SADARI, yaitu :
1. Pengamatan pada cermin
Berdiri di depan cermin dengan bahu lurus dan tangan diletakkan di pinggul. Amati ukuran, bentuk dan warna payudara, serta perhatikan apakah ada perubahan yang mudah terlihat atau pembengkakan.

2. Perabaan pada posisi berdiri
Angkat lengan kanan ke belakang kepala, lalu gunakan jari-jari tangan kiri untuk melakukan perabaan pada payudara sebelah kanan. Lakukan langkah sebaliknya untuk melakukan perabaan pada payudara sebelah kiri.

3. Perabaan pada posisi berbaring
Berbaring di atas permukaan yang keras. Untuk melakukan perabaan payudara sebelah kanan, letakkan bantal di bawah pundak kanan dan letakkan lengan kanan di belakang kepala. Ratakan jari-jari tangan kiri pada payudara kanan, dan tekan secara lembut dengan gerakan memutar searah jarum jam.

Mulailah dari bagian paling puncak dari payudara kanan (posisi jam 12), kemudian bergerak ke arah jam 10 dan seterusnya hingga ke posisi jam 12. Setelah itu, pindahkan jari-jari sekitar 2 cm mendekati puting, teruskan gerakan memutar seperti sebelumnya hingga semua bagian payudara, termasuk puting selesai diraba. Lakukan hal yang sama untuk payudara sebelah kiri.

Perlu diperhatikan untuk melakukan SADARI yang benar, gunakan buku jari dari ketiga jari tengah, bukan ujung jari. Dianjurkan mengulang-ulang gerakan melingkar dengan buku jari disertai dengan sedikit penekanan, namun hati-hati karena tekanan yang berlebihan menyebabkan tekanan pada tulang rusuk dan akan terasa seperti benjolan.

Beberapa perubahan yang dapat ditemukan, antara lain : kondisi payudara serta puting susu menebal, bengkak, nyeri dan kemerahan; puting susu yang membalik ke arah dalam, serta mengeluarkan cairan kehijauan atau darah; dan adanya benjolan. Jika ditemukan benjolan atau perubahan pada payudara saat melakukan SADARI yanng membuat khawatir, segera konsultasikan ke dokter.

SADARI merupakan tindakan penting, karena hampir 85% benjolan pada payudara ditemukan oleh penderita sendiri. Selain itu, SADARI merupakan cara deteksi dini kanker payudara yang paling sederhana dan murah. Oleh karena itu, lakukan SADARI secara rutin dilengkapi dengan clinical breast examination (pemeriksaan payudara oleh dokter), mamografi (bagi wanita dengan usia > 40 tahun), serta MRI dan USG mammae jika ditemukan hasil pemeriksaan abnormal. (Prodia)

Continue reading