Ecowas Berhentikan Keanggotaan Mali

ABIDJAN, KOMPAS.com – Organisasi Negara Afrika Barat (Ecowas) memberhentikan sementara Mali sebagai anggota organisasi itu pasca terjadinya kudeta militer di negara tersebut pekan lalu.

Rencananya delegasi yang terdiri dari sejumlah kepala negara anggota Ecowas akan berkunjung ke Mali dan menekan pemimpin kudeta untuk segera mengembalikan kehidupan demokrasi di negara itu.

Sementara itu pemimpin kudeta di Mali kemarin mengumumkan pencabutan jam malam yang mereka berlakukan sejak Rabu lalu.

Kudeta itu sebelumnya dipimpin oleh sejumlah tentara yang tidak senang dengan kebijakan pemerintah Presiden Amadou Toumani Toure dalam menangani kelompok pemberontak Tuareg yang beraksi di sebelah utara negara tersebut.

Keputusan pemberhentian sementara keanggotaan Mali dari Ecowas diputuskan lewat sebuah rapat darurat yang berlangsung di Abidjan, Pantai Gading.

“Kondisi keamanan dan politik di Mali sangat berbahaya dan tidak hanya mengancam perdamaian dan keamanan di Mali tapi juga mengancam perdamaian, stabilitas dan pembangunan semua negara anggota Ecowas,” kata kepala Komisi Ecowas, Kadre Desire Ouedraogo kepada Associated Press.

Kecaman internasional

Komentar serupa juga disampaikan oleh Ketua Ecowas yang juga merupakan Presiden Pantai Gading, Alassane Outtara. “Kami tidak bisa membiarkan sebuah negara yang telah mempunyai aturan dan instrumen kehidupan berdemokrasi kemudian mundur dua dekade meninggalkan sejarah yang telah mereka bangun,” kata Outtara.

Uni Afrika sebelumnya juga menggambarkan kudeta itu sebagai langkah mundur bagi Mali dan menimbulkan kecaman dari dunia internasional.

Outtara rencananya akan berkunjung ke Mali sebagai bagaian dari delegasi Ecowas bersama dengan sejumlah kepala negara dari Niger, Benin, Burkina Faso dan Liberia.

Hingga hari ini keberadaan Presiden Mali, Amadou Toumani Toure masih belum diketahui sejak dia dipaksa meninggalkan istananya pada kudeta pekan lalu.

Namun Kementerian Luar Negeri Perancis mengatakan bahwa hari Selasa (27/03) duta besar mereka di Mali telah melakukan pertemuan dengan Presiden Toure dan kelompok yang melakukan kudeta memberikan kepastian kepadanya bahwa Toure akan berada dalam kondisi aman.