Tiap Jam, Satu Perempuan Indonesia Meninggal

DENPASAR, KOMPAS.com – Kanker serviks adalah penyakit yang bisa menghantui kaum hawa karena keganasannya menyerang leher rahim (serviks), bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang vagina.

Lalu, serangan itu berubah menjadi sel kanker dan biasanya memakan waktu 3 tahun -17 tahun sampai terjadi kanker. Dan ketika seorang perempuan menderitanya, maka kematian pun siap menjemput.

Karenanya, jika perempuan segera sadar, kesempatan mencegah cukup lama dengan mendeteksi skrining dan menangani sebelum benar-benar terjadi. Yakni, bisa dengan vaksin Human Papilloma (HPV).

Dalam seminar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Denpasar dan RSIB Puri Bunda “Pencegahan Kanker Serviks untuk Praktek Dokter Sehari- hari”, di Batukaru Room Hotel Aston, Denpasar, diungkapkan di dunia setiap satu menit seorang wanita  meninggal  akibat  kanker serviks. Sementara di Indonesia, satu perempuan meninggal karena penyakit serupa setiap satu jam.

Ketua IDI Denpasar dr I Ketut Suyasa, Sp.B, Sp.OT(K) dalam sambutannya yang sekaligus membuka seminar tersebut, menyampaikan dokter pun tetap memerlukan pengetahuan tambahan untuk mencegah kanker serviks secara dini .

“Ini butuh kerjasama semuanya. Kampaye pencegahan perlu digencarkan agar perempuan Bali bebas kanker serviks 2012,” katanya. Sementara pembicara, dr IB Upadana Pemaron, SpOG dalam paparannya menyampaikan bahwa di Indonesia, lebih dari 70 persen kasus kanker serviks ditemukan saat sudah stadium lanjut (di atas 2B), dengan angka kejadian setiap satu jam seorang perempuan meninggal.

Oleh karena itu pencegahan penyakit yang disebabkan oleh virus Human Papilloma (HPV) itu dapat dilakukan melalui pencegahan primer yaitu melalui edukasi dan vaksinasi.

“Pencegahan sekunder dengan Pap Smear atau IVA (Inspeksi visual asam asetat). Pada praktek dokter sehari-hari, akan menjadi penting bagi seorang dokter untuk dapat melakukan pendekatan kunjungan tunggal, memberikan pengetahuan, serta memberikan konseling mengenai bahaya kanker serviks,” ajaknya di depan 125 dokter umum sebagai peserta.

Ia menambahkan vaksinasi diikuti dengan skrining  merupakan perlindungan terbaik untuk mencegah kanker serviks. Hanya saja, mahalnya harga vaksin untuk tiga kali suntik masih menjadi kendala.

Direktur Utama RSIA Puri Bunda dr Ida Bagus Semadi Putra, SpOG dalam sambutannya menyampaikan bahwa RSIA Puri Bunda sebagai Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak konsen terhadap kesehatan Ibu dan Anak sehingga ikut berperan aktif mencegah kanker.

Ia pun mendukung program angsuran pembayaran untuk para perempuan yang sadar untuk vaksinasi. “Nah, jadi yuk dokter umum ikut kampanyekan Bali bebas kanker serviks 2012. Harga vaksinasi yang mahal mari atasi sementara dengan sistem subsidi dan angsuran….,” seruan Suyasa serta Pamaron.