Hati-hati Merawat Pasien HIV/AIDS dengan Hepatitis C

JAKARTA, KOMPAS.com – Kerusakan hati pada infeksi ganda virus hepatitis C-HIV tidak berkurang, walaupun terdapat imunodefisiensi berat.

Pemberian highly active anti-retroviral memicu perburukan fibrosis hati, atau terbentuk jaringan ikat yang berkolerasi dengan peningkatan sel CD4 di dalam sel hati.

Ini terungkap dalam sidang uji desertasi doktor Rino Alvani Gani SpPD-KGEH, Senin (12/9/2011) di Ruang Senat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Kampus Salemba, Jakarta. Ia sukses memukau tim penguji dengan memperoleh nilai A dan IP kumulatif 3,72.

Salah satu pakar penyakit hati di Indonesia ini memaparkan Efek Pemberian Highly Active Antiretroviral Therapy pada Hispatologi Hati Pasien dengan Infeksi Ganda Virus Hepatitis C dan Human Immunodeficiency Virus, serta Kaitannya dengan Imunitas Seluler di Jaringan Hati.

Ia dipromosikan oleh promotor Prof dr LA Lesmana SpPD-KGEH PhD, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI, dan kopromotor Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi SpPD-KAI. Sementara Tim penguji dipimpin Prof Dr dr Sarwono Waspadji SpPD-KEMD dengan anggota Prof Dr dr I Dewa Nyoman Wibawa SpPD-KGEH, Dr dr Crezna Heriawan Soejoeno SpPD-KGer, dr Fera Ibrahim SpMK PhD, dan dr Nuryati Chaerani Siregar MS SpPA(K) PhD.

Usai menjalani sidang itu, Rino mengatakan pasien koinfeksi hepatitis C-HIV dengan kekebalan tubuh rendah atau CD4 di bawah 200, harus mendapatkan terapi antiretroviral (ARV). Tujuannya, ARV menekan perkembangbiakan virus HIV.

Ketika kekebalan tubuh meningkat, hingga CD4 mencapai 200, pasien harus diberikan terapi hepatitis C. Ini untuk mencegah terjadinya kerusakan seperti perburukan fibrosis, atau pembentukan jaringan ikat pada hati pasien.

“Kerusakan akan terjadi, kalau obat yang diberikan hanya untuk HIV AIDS saja. Jadi tolong, pada pasien koinfeksi dua duanya harus diobati,” ujarnya.

Penelitian Rino, awalnya melibatkan 48 pasien koinfeksi dan hingga 48 pekan bertahan 34 pasien. Mereka rata-rata memiliki CD4 darah yang rendah (26,5 sel/uL). Sebelum dan sesudah diberi highly active antiretroviral therapy (HAART), pasien ini dibiopsi untuk mengetahui ada tidaknya nekroinflamasi dan fibrosis hati.

Biopsi yang dilakukan dua kali pada rentang satu tahun pada pasien yang sama ini, mengundang pujian dari penguji. Penelitian ini dinilai tidak murah dan tidak mudah serta kompleks.

Biopsy sebelum diberikan HAART terdapat nekroinflamasi ringan (54,2 persen) dan fibrosis ringan (87,5 persen). Biopsi kedua, setelah diberikan HAART, skor nekroinflamasi tidak berubah bermakna tetapi skor fibrosis meningkat secara bermakna. Peningkatan skor fibrosis berkolerasi dengan peningkatan jumlah sel CD4 pada sel hati.