70 Persen Kasus Kanker di Negara Berkembang

JAKARTA, KOMPAS.com – Penyakit kanker pada tahun 2030 diprediksi bakal makin merongrong kesehatan manusia di bumi ini. Sekitar 70 persen kasus kanker itu berada di Negara berkembang. Negara berkembang, termasuk Indonesia yang memiliki penyebaran tenaga medis kanker dan pengetahuan warganya yang masih rendah menjadi tantangan berat.

Berbekal peta masa depan kondisi penyakit ini, Perhimpunan Ongkologi Indonesia mencoba terjun meningkatkan dan mendidik tenaga-tenaga medis di seluruh Nusantara dalam menangani penyakit mematikan, Kanker.

“Namun dalam melaksanakannya, kami terbentur pada kemampuan dana,” ucap Dr dr Aru W Sudoyo SpPD KHOM, Dokter Ahli Penyakit Kanker saat menjadi Ketua Panitia “Cancer Night”, Minggu (18/9/2011) malam di Jakarta.

Aru mengatakan kanker mulai tampak menyerang manusia usia produktif atau di bawah 40 tahun. Dengan posisi 30 persen jumlah penduduk Indonesia adalah kaum muda, kanker akan sangat merugikan jika melanda mereka. Itu akan membebani keluarga dan Negara. Saat ini kematian utama akibat penyakit di Indonesia masih dikuasai penyakit jantung disusul kanker.

Untuk memeranginya, Indonesia mengalami kendala keterbatasan jumlah tenaga ahli di bidang kanker. POI sendiri “hanya” beranggotakan 700 orang. Jauh dari cukup untuk melayani seluruh warga di Indonesia. Wilayah Timur seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara sangat minim kehadiran ahli kanker. Dengan kondisi ini tak heran, pasien kanker tak dapat terdeteksi lebih dini.

“Sangat banyak pasien dibawa ke kami sudah dalam kondisi lanjut (parah),” ucapnya. Karena itu, POI berusaha memediasi kelemahan ini dengan mendidik dan menggelar pelatihan kepada tenaga medis maupun awam agar mengenal sejak dini penyakit kanker.

Dalam momen itu, POI berusaha menggerakkan hati para donatur/tamu undangan untuk mengulurkan tangan berpartisipasi memberikan dukungan dalam dana. Pada awal pertunjukan, tamu disuguhi permainan musik para anggota POI. Adalah dr Ameliana Soetanto, dr Marsen Isbayuputra (Biola), dr Yusuf Aulia Rahman (biola alto), dr Safira Malik Suryometaram (cello), dan dr Marcel Prasetyo (piano). Mereka menyuguhkan Lima musik daerah Shoo Fly (AS), Bella Bimba (Itali), The Living of Li verpool (Inggris), Linstead Market (Jamaica), dan Tancuj Tancuj (Slovakia).

Setelah itu duet dr Sonar Soni Panigoro (gitar) dan dr Sawitri Darmiati (piano) memainkan karya Joaquin Rodrigo: Concerto Aranjues – Adagio. Puncak pertunjukan ditampilkan para profesional musik Ary Sutedja (piano) Dan Asep Hidayat (cello) serta happening art dari Mikhail David. Mereka menggelayut malam yang diiringi hujan menampilkan musik klasik ala JS Bach, Lv Beethoven, A Piazolla, F Chopin, Jaya Suprana, G Faure, Saint Saens, dan Shostakovich.