Rendah, Kepatuhan Minum Obat Kolesterol

JAKARTA, KOMPAS.com – Bila perubahan gaya hidup tidak berhasil menurunkan kadar kolesterol, terutama kolesterol LDL (kolesterol jahat) sampai batas yang diinginkan, maka dokter akan memberikan obat. Sayangnya di Indonesia, 68,7 persen pasien gagal mencapai target terapi. Alasannya karena sering lupa minum obat.

Hal itu terungkap dalam studi Pan-Asian yang disebut CEPHEUS (Centralised Pan-Asian Survey on the under treatment of hypercholesterolemia). Studi yang dilakukan di 8 negara di wilayah Asia, termasuk Indonesia, ini bertujuan untuk melihat karateristik pengobatan hiperkolesterolemia di Asia dan melihat bagaimana interaksi dokter dan pasien dalam mencapai target terapi.

Survei juga menyebutkan 65 persen pasien mengaku lupa mengonsumsi obat penurun kolesterol mereka beberapa kali dan menganggap hal tersebut tidak memengaruhi kadar kolesterol mereka. Hal ini menjadi salah satu penyebab kegagalan terapi yang sesuai dengan panduan tatalaksana lipid.

Sementara, pasien dengan risiko tinggi seperti penyakit kardiovaskular, tekanan darah tinggi, penyakit pembuluh darah karotis dan diabetes akan lebih sulit mencapai target terapi.

"Tingkat kesuksesan terapi hiperkolesterol di Indonesia sayangnya masih belum maksimal, bahkan menduduki peringkat terakhir di Asia," kata Dr.M.Munawar, SpJP, koordinator nasional CEPHEUS. Di Indonesia, prevalensi hiperkolesterolemia adalah berkisar 11 – 18 persen.

Riset secara luas telah menunjukkan kadar LDL adalah faktor risiko utama penyakit jantung dan pembuluh darah. Semakin rendah tingkat kolesterol, makin baik dalam menurunkan risiko, apalagi jika disertai dengan perubahan gaya hidup, risiko terkena serangan jantung dan stroke akan semakin rendah.