Pria Gay Kini Bisa Donor Darah

KOMPAS.com — Pria penyuka sesama jenis kini bisa menyalurkan keinginannya untuk membantu sesama lewat donor darah setelah Pemerintah Amerika Serikat mencabut larangan donor darah bagi pria gay.

Larangan yang berlaku sejak tahun 1985, sejak awal krisis AIDS di dunia, itu menyebutkan, pria homoseksual yang pernah melakukan hubungan seks dengan sesama jenis sejak tahun 1977 dilarang mendonorkan darahnya.

Alasan revisi terhadap larangan tersebut adalah perkembangan dan inovasi yang dilakukan para ilmuwan dalam 25 tahun terakhir, khususnya dalam skrining darah dan deteksi HIV. Saat ini teknologi termutakhir telah mampu mendeteksi HIV dalam darah sejak dua minggu sejak terinfeksi.

Kebijakan yang kini diterapkan Pemerintah AS adalah lebih melihat perilaku individu ketimbang orientasi seksualnya. Untuk itu, sebelum mendonorkan darahnya, setiap donor akan diminta mengisi lembar pertanyaan untuk mengetahui risiko adanya penularan penyakit.

“Ketika larangan itu diberlakukan pada awal tahun 1980-an sebenarnya sudah tepat mengingat keterbatasan teknologi saat itu. Namun kemudian teknologi berkembang sangat pesat untuk mengetahui apa yang ada dalam darah,” kata Chris Collins, wakil direktur yayasan AIDS Research, Washington DC, AS.

Palang Merah AS bersama dengan American Association of Blood Banks dan America Blood Center juga mendukung pencabutan larangan tersebut. Dalam pernyataannya, mereka menyebutkan pria gay seharusnya boleh mendonorkan darahnya, 12 bulan sejak terakhir kali kontak seksual mereka.

Meski FDA menyatakan penularan HIV lewat donor darah dari pria gay 15 kali lebih tinggi, berbagai penelitian menyebutkan, dengan sistem skrining yang canggih, hal itu bisa dihindarkan. Selain itu, menurut data Center for Disease Control and Prevention, selama tahun 2002-2007 tidak terjadi penularan HIV lewat transfusi darah.

Meski demikian, panel ahli merekomendasikan pemerintah untuk melakukan riset mengenai efektivitas protokol pre-skrining bagi pria gay untuk mencegah terjadi penularan HIV. Riset lebih lanjut juga akan dilakukan untuk menentukan siapa saja yang paling berisiko menularkan penyakit.