Pembeli Seks Sulit Terjangkau Program

Jakarta, Kompas – Pembeli seks sulit terjangkau program pengendalian HIV/AIDS. Padahal, penularan melalui hubungan seksual kembali menjadi cara penularan HIV tertinggi di Indonesia.

”Jumlah perempuan pekerja seks komersial sekitar 20.000 di Indonesia dan pelanggannya sekitar 2 juta orang. Itu belum terjamah oleh Kementerian Kesehatan,” ujar Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih. Hal itu diungkapkan Endang saat membuka seminar nasional ”How to Deal with HIV/AIDS” di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Sabtu (12/6).

Hal mendasar, seperti pendataan akurat terhadap pekerja seks komersial dan pelanggannya, bukan hal mudah. Mereka tidak terlokalisasi di tempat-tempat tertentu dan masuk-keluarnya perempuan ke pekerjaan tersebut terbilang tinggi.

Tidak mudah mengintervensi pembeli seks dengan program- program pemerintah karena menjadi sangat sensitif dan dapat menuai kemarahan berbagai pihak. Cara tidak langsung, seperti menyediakan ATM kondom, juga belum dapat diterima sepenuhnya oleh masyarakat lantaran dikhawatirkan mendorong perilaku seks bebas. Padahal, pembeli seks yang berhubungan seksual tidak aman berisiko tinggi tertular HIV dan menjadi penular.

Sekitar 49 persen penularan HIV melalui hubungan seksual hetero; lewat jarum suntik di kalangan pengguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (napza); lelaki berhubungan seks dengan lelaki; dan perinatal.

Endang, yang mengarang buku Perempuan-Perempuan Kramat Tunggak, terkait fenomena HIV/AIDS dan penyakit menular seksual di dalamnya itu, mengatakan, pengendalian HIV/AIDS tidak semata persoalan kesehatan secara langsung. Sering kali persoalan HIV/AIDS terkait dengan masalah sosial, budaya, dan ekonomi. Dalam kesempatan itu, Endang mengajak berbagai organisasi dan elemen yang ada di masyarakat bersama-sama mengendalikan HIV/AIDS.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ratna Sitompul mengatakan, HIV/AIDS termasuk pandemi yang destruktif. Penyakit itu menyebabkan kematian 25 juta orang di seluruh dunia sampai akhir tahun 2009, menurut laporan UNAIDS. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan, Indonesia sebagai negara dengan peningkatan prevalensi tercepat di Asia. (INE)