Menciptakan Kisah Baru

Kita dapat terpuruk akibat ditinggalkan orang yang dicintai, kegagalan kerja, mengalami sakit serius, kehilangan tempat tinggal dan banyak lagi. ”Menciptakan kisah atau narasi baru” dalam memahami peristiwa menjadi salah satu cara untuk memperoleh kembali rasa berdaya. Terpuruk

E, 38 tahun, ibu dua orang anak bercerita: ”Saya sangat mencintai suami saya dan membaktikan hidup saya sepenuhnya buat suami dan anak-anak. Saya seperti disambar geledek ketika diberitahu teman yang melihat suami mesra dengan perempuan lain. Suami mengaku sudah menikah lagi. Ia ingin tetap dengan perempuan itu, tetapi juga tidak mau menceraikan saya. Saya betul-betul shock, kosong, tiap saat menangis, tidak bisa melakukan apa-apa. Saya amat sangat terluka dan muak. Jadi saya bilang ke dia, dia yang keluar dari rumah, atau saya yang keluar.

Perjuangan saya berat sekali. Hal itu terjadi dua tahun lalu. Sekarang saya sudah jauh lebih baik. Saya punya usaha sendiri, punya teman-teman baik, lebih berani membuka diri dan menyuarakan pandangan saya. Kami belum bercerai karena dia tidak mau. Tapi, praktis kami hidup terpisah dan tidak berkontak apa-apa kecuali untuk urusan anak. Kecuali perselingkuhannya, dia laki-laki yang baik. Beberapa teman cerita sepertinya dia tidak bahagia dengan istrinya itu. Jujur saya masih sangat mencintai suami saya, tapi kekecewaan tidak dapat tersembuhkan, jadi saya tidak dapat memberi lagi seperti dulu.

Dia bilang ingin kembali, tetapi bagaimana mungkin saat dia masih bersama perempuan lain? Anak-anak juga sangat kecewa dengan ayahnya dan membebaskan saya melakukan yang paling membuat saya bahagia. Masa saya berbakti sudah sangat cukup dan selesai. Saya masih sering menangis, tetapi sekarang saya adalah perempuan yang jauh lebih kuat dan cukup bahagia tanpa dia. Bahkan, bila dia meninggalkan perempuan itu pun dia harus berjuang sangat keras untuk membantu saya yakin bahwa masih ada masa depan dari kisah kami berdua…”

Sulit menemukan hidup yang sangat sempurna. Bagaimanapun, E yang sangat terluka akhirnya dapat menemukan diri dan sikap yang jelas dalam relasi dengan suami. Bila menyimak cerita E, kita melihat bagaimana E secara perlahan-lahan membangun kisah atau narasi baru. Dengan tegas ia mengaku masih sangat mencintai suami, tetapi ’tidak dapat memberi lagi’, ’masa berbakti sudah sangat cukup dan selesai’, dan ’suami harus berjuang sangat keras untuk dapat meyakinkan nilai dari kebersamaan mereka’.

Membangun cerita

Tidak mudah membangun cerita baru dari kegagalan yang sangat menyakitkan. Pemahaman kadang ditemukan perlahan selama bertahun-tahun melalui berbagai kekacauan dan rasa sakit. Beberapa kata kunci yang dapat kita renungkan dalam menemukan atau membangun cerita baru, antara lain, adalah ”fakta” vs ”ilusi”, ”nilai utama diri”, ”kebutuhan riil”, ”pilihan”, ”visi masa depan”, dan ”pembelajaran”.

Fakta apa yang ada di depan mata dengan pasangan berselingkuh, pacar meninggalkan kita dalam keadaan hamil, suami diam-diam menikah lagi, sahabat menggelapkan uang usaha bersama, atau kegagalan usaha? Seorang yang sangat mencintai umumnya akan terus mengembangkan harapan, sulit membedakan ilusi dan fakta. Mungkin ada masanya di mana kita perlu lebih banyak mengingatkan diri mengenai ’fakta’ untuk dapat lepas dari ilusi sehingga dapat mengambil keputusan yang lebih tegas.

Kita juga dapat merenungkan ’nilai-nilai utama diri’. Norma-norma masyarakat atau orang lain bisa sama ataupun berbeda dengan nilai-nilai yang kita yakini. Karena yang menjalani hidup bukan orang lain melainkan diri sendiri, pada akhirnya yang lebih penting adalah ’nilai utama diri sendiri’.

Apakah poligami hal yang menyakitkan, tetapi masih dapat diterima? Ataukah sebaliknya: poligami menjadi tanda hilangnya hubungan yang sepenuhnya saling memberi dan menghormati? Apakah kita sangat khawatir bila meneruskan hubungan dengan pacar yang tukang selingkuh sehingga memilih memutuskan hubungan? Atau sangat mengutamakan pandangan masyarakat sehingga memilih menikah dengan pacar yang menghamili, dan siap dengan risiko harus menafkahi sendiri diri sendiri dan anak?

Kadang bayangan masa depan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kita yakini. Misalnya, kita meyakini nilai-nilai kejujuran, kesetiaan, kasih sayang timbal balik. Karena kita sangat mencintai pasangan, yang ada di benak adalah ’bayangan masa depan indah bersama dia’, padahal ia sebenarnya tidak memenuhi nilai-nilai utama kita. Bagaimana mengambil sikap?

Mengambil keputusan

Mengambil keputusan berarti mengambil sikap agar dapat berjalan terus dalam suatu arah yang–dalam berbagai pilihan yang semua mengandung keterbatasan–kita anggap lebih baik. Untuk itu, kita perlu kembali pada semua kata kunci yang ada: fakta dan situasi riilnya bagaimana? Kebutuhan dan nilai utama hidup kita apa? Bagaimana pula dengan berbagai pihak lain terkait yang menjadi tanggung jawab kita?

Yang mungkin dapat membantu adalah membuat dan mengisi secara rinci bagan pengambilan keputusan dengan kolom-kolom pilihan di kiri, dua kolom implikasi negatif dan positif di tengah, serta langkah tindak lanjut di kolom paling kanan. Apa saja pilihannya? Bercerai, tidak bercerai tetapi berpisah tempat tinggal, tetap hidup bersama seperti sebelumnya, dan apa lagi? Kita perlu memerinci apa implikasi positif-negatif dari masing-masingnya, misalnya terkait situasi keuangan, anak-anak, atau ketenangan batin diri sendiri.

”Pembelajaran” atau ”hikmah” selalu menjadi hal penting yang menyertai pemaknaan baru yang kita bangun dalam hidup. Suatu hal yang pada akhirnya hanya dapat kita temukan sendiri tidak dapat dipaksakan dari luar. Ketika cerita baru yang memberdayakan telah kita temukan, mengherankan luka masa lalu, malah menjadi sarana pertumbuhan diri. Itulah misteri dan keajaiban hidup.

KRISTI POERWANDARI, PSIKOLOG