Melahirkan Setelah 20 Hari Kontraksi

LONDON, KOMPAS.com – Bagi seorang calon ibu, melahirkan adalah momen menegangkan dan pertaruhan antara hidup dan mati. Tak ada satu pun wanita di dunia ini yang ingin proses persalinannya sulit dan berlangsung lama.

Namun keanehan dialami seorang perempuan asal Inggris bernama Amy Buck.  Ia tak menyangka kalau persalinan anak pertamanya begitu sulit dan melelahkan. Betapa tidak, Buck harus mengalami kontraksi dalam 20 hari sebelum akhirnya melahirkan buah hatinya yang prematur.

Penderitaan Buck yang begitu berat akhirnya terbayar lunas setelah bayi bernama Daniel Barwell lahir dengan selamat dengan bobot hanya sekitar 600 gram. Bayi Daniel sempat mendapat perawatan di ventilator, dan divonis memiliki harapan hidup yang tipis. Tetapi masa kritis Daniel sudah terlewati dan ia sekarang sudah genap berusia setahun.

Sejak minggu ke-19

Kehamilan Amy Buck awalnya tidak bermasalah hingga perempuan yang tinggal di Morecambe, Lancashire, itu mengalami kontraksi saat kehamilannya memasuki minggu ke-19. Tepat pada 4 Mei tahun lalu, ia harus dilarikan ke RS Royal Lancaster karena terancam mengalami keguguran.

Pada awalnya, dokter mengira Buck hanya mengalami keram pada kandungan dan ia diperbolehkan pulang ke rumah. Namun setibanya di rumah, kontraksi yang dialami Buck kerap terjadi dan ia pun mulai mengalami rasa panas dan nafas yang tersengal-sengal.

Buck sempat berupaya untuk rebahan di tempat tidur untuk mengurangi rasa sakit yang dialaminya. Tetapi kontraksinya makin memburuk dan dalam dua pekan berikutnya ia kembali dilarikan ke rumah sakit.

Di rumah sakit, dokter sempat menyatakan pada Buck bahwa janin dalam kandungannya memungkinkan untuk dikeluarkan. Namun sayangnya, perempuan berusia 17 tahun itu mengidap infeksi, sehingga dokter khawatir tubuh Amy terlalu lemah selama proses persalinan.

Dokter pun kemudian memberi Buck obat tablet untuk menunda persalinan dan menurunkan kontraksi. Tetapi obat-obatan ini tidak memberi efek apa-apa. Kandungan Buck selalu mengalami kontraksi setiap satu setengah menit.  Baru pada tanggal 24 Mei, Buck akhirnya dapat mengeluarkan bayinya dengan selamat.

Para dokter spesialis berpendapat, sangat kecil kemungkinan Buck menjalani proses persalinan yang sebenarnya selama tiga minggu, meskipun perempuan  ini merasakan seperti itu.  Faktor infeksi menyebabkan Amy kerap merasakan gejala mirip seperti akan melahirkan.

“Apa yang mungkin terjadi adalah air ketubannya pecah pada tahap awal kehamilan sehingga janinnya mengalami infeksi. Ini menyebabkan dia merasakan sakit yang hebat dan membuatnya mengalami bukaan – itu pun hanya jika ia benar-benar siap untuk bersalin. Pada beberapa poin, infeksi dapat memicu ia benar-benar mengalami persalinan,’ ungkap Patrick O’Brien, dokter spesialis kandungan dari London’s University College Hospital .

Umumnya, rara-rata suatu proses persalinan hanya butuh waktu sekitar 12 jam saja pada ibu yang melahirkan anak pertamanya. “Persalinan terlama yang pernah saya dengar hanya 48 jam saja,” kata O’Brien.