Hipnoterapi Atasi Fobia sampai Kasus Teroris

JAKARTA, KOMPAS.com — Banyak hal yang bisa dilakukan dengan hipnotis. Bukan dalam konteks seperti yang selama ini ada dalam pikiran banyak orang, hipnotis dengan terapi atau yang disebut dengan hipnoterapi memiliki banyak manfaat, terutama di bidang kesehatan jiwa. Demikian diungkapkan hipnoterapis yang juga penulis buku, Adi W Gunawan, dalam Indonesia Hypnosis Summit 2010, Minggu (13/6/2010), di Hotel Oasis Amir, Jakarta.

“Manfaat hipnoterapi banyak sekali, mulai dari menyembuhkan yang paling ringan seperti fobia hingga kepribadian majemuk,” ujarnya kepada Kompas.com.

Ia menjelaskan, pada dasarnya hipnoterapi ditujukan untuk membantu seseorang mengatasi masalahnya dengan melakukan stimulus di dalam otak saat seseorang dalam keadaan trance. Trance di sini maksudnya bukan dalam kondisi sama sekali tidak sadar. Tetapi, Adi menjelaskan, gelombang otak beta pada saat itu berkurang, yang aktif adalah gelombang alfa dan beta.

Seorang hipnoterapis di sini hanya berperan sebagai pengendali pikiran agar membantu orang tersebut menemukan jalan pikiran, perasaan, hingga mampu memengaruhi tindakan yang membantunya dalam mengatasi problema.

Penyakit yang sering menggunakan hipnoterapi dalam metodenya adalah fobia, depresi, trauma, hingga kepribadian majemuk. Bahkan, kasus teroris pun bisa tersingkap dengan menggunakan hipnoterapi.

Presiden Indonesia Board of Hypnosis Yan Narindra mengungkapkan, kasus teroris memang bisa dibongkar dengan menggunakan hipnoterapi. “Untuk membongkar kasus teroris bisa digunakan hipnoterapi yang dinamakan forensic hypnosis. Ini digunakan untuk mengembalikan memori lama untuk mengungkap peristiwa terorisme,” ujarnya.

Apakah hipnoterapi juga bisa membuat seseorang berhenti menjadi teroris? “Wah itu tergantung orangnya karena tidak selamanya hipnoterapis mampu memerintah apa pun ke pikiran orang tersebut. Tergantung orangnya mau atau tidak menerima stimulus itu,” ungkap Yan.

Terdapat banyak teknik dalam hipnoterapi, seperti neuro-linguistic programming (NLP) yang menitikberatkan pada penggunaan bahasa, gerak tubuh, dan intonasi dalam menstimulus seseorang, penggunaan totok, hingga metode cognitive behavior therapy (CBT).

Permasalahan di Indonesia selama ini, hipnoterapi dianggap sebagai sesuatu yang bersifat magis. Hal ini diungkapkan Yan saat membuka pertemuan perdana para hipnoterapis se-Indonesia tersebut.

“Di beberapa daerah bahkan dilarang. Selama ini hipnoterapi belum diakui sebagai cabang pengobatan psikologis tersendiri di Kementerian Kesehatan, masih dianggap sebagai alternatif. Sekarang ini kami berusaha mengedukasi masyarakat tentang manfaat hipnoterapi,” ungkap Yan saat ditemui seusai acara.