Archive for March, 2010

KREDIT, UNTUNG ATAU RUGI???

Berita menurunnya suku bunga bank di Indonesia membuat beberapa bank swasta dan negara berlomba-lomba memberikan aneka fasilitas khususnya dalam hal per’kredit’an. Mulai dari kartu kredit sampai KPR untuk rumah. Semua bank berlomba memberikan suku bunga terendah kepada nasabahnya.

Belum lagi beberapa tawaran seperti bebas premi tahunan, atau mendapat hadiah langsung saat melakukan transaksi tentunya membuat kita semakin tergiur untuk segera membuat dan memakai jasa kredit dari bank. Aneka fasilitas yang tiap bank tawarkan membuat kita sendiri susah untuk berpikir lebih hemat.

Lalu bagaimana bila kita sudah terlanjur memiliki bermacam-macam kartu kredit? Lalu bagaimana cara terbaik untuk mensiasati penggunaan kartu kredit? Sebelumnya akan WarungCurhat bagikan satu cerita dari teman kita mengenai masalah kartu kredit tersebut.

Teman kita juga salah satu ibu rumah tangga yang sangat tertarik dengan kartu kredit, kurang lebih sudah ada 5 brand kartu kredit yang telah ia pegang. Suatu ketika ia akan mengambil cicilan rumah yang telah diidamkannya dengan KPR dari bank. Hal yang terjadi adalah saat diadakannya BI cek aneka kartu kredit tersebut memberatkan teman kita ini untuk bisa lolos dalam pelunasan KPR.

Saat ia akan menutup beberapa kartu kredit yang jarang ia pakai pun cenderung sulit. Akibatnya ia harus menunda untuk membeli rumah idamannya tersebut sampai proses kartu kreditnya terselesaikan. Teman, cerita yang WarungCurhat bagikan di atas hanya bermaksud memberikan contoh bagi teman-teman, kartu kredit tidak hanya kita pertimbangkan manfaatnya saja, tetapi juga untuk berjaga-jaga kedepannya.

Ada beberapa masukan yang bisa kita berikan, yaitu dengan memanfaatkan kartu kredit yang telah kita pegang semaksimalnya. Contohnya saja, bisa kita gunakan untuk perputaran usaha. Misalnya penggunaan kartu kredit kita gunakan untuk membeli barang yang bisa disewakan seperti mobil. Angsuran setiap bulannya bisa kita tutupi dengan penghasilan dari persewaan mobil tersebut.

Bisa juga dengan menggunakan kartu kredit dengan nilai bunga terendah, bila kartu kredit kita saat ini memiliki nilai bunga yang tinggi bisa kita lakukan pengoperan kredit ke suku bunga yang lebih rendah. Hal ini akan jauh lebih menguntungkan kita. Selain itu kurangi penggunaan kartu kredit ketika kita pergi berbelanja di mal, bawalah uang cash agar kita tidak tergiur untuk membeli barang yang tidak perlu.

Nah, teman-teman bisa gunakan film confenssion of a shopaholic sebagai contoh akibat kelebihan berbelanja dengan kartu kredit, dan jadikan juga sebagai pelajaran berharga bagi kita, selamat mencoba.

  • Share/Bookmark

RESEP HOBAJUK (SUP LABU, KOREA)

727295 57238526 300x225 RESEP HOBAJUK (SUP LABU, KOREA)

Bahan-bahan :
• 1 buah Labu kuning besar
• 1 buah Labu hijau kecil
• Kacang kenari sesuai selera
• 4sdm Tepung beras
• Gula pasir
• Garam
• Kacang tanah

Cara buat :
• Labu besar dan Labu kecil di potong masing-masing satu ruas, dikuliti, masak dengan air dan sejumput garam selama kurang lebih 30 menit.
• Labu yang sudah matang ditambah sedikit air kuah lalu hancurkan dengan blender.
• Masak kacang tanah dengan air dan sedikit garam, kurang lebih selama 5 menit, sampai lunak, tiriskan.
• Tepung beras dicampur sedikit kuah labu, bentuk menjadi bola-bola, lalu mandikan lagi dengan tepung beras yang tersisa.
• Masak bola-bola tepung beras dengan air sampai matang selama 5-10 menit.
• Panaskan cairan labu, tambah sedikit garam dan gula, lalu masukkan bola-bola tepung yang sudah dimasak, tambahkan gula sesuai selera.
• Angkat, tiriskan dan taburi dengan kacang kenari dan kacang tanah.

Bila ada pertanyaan untuk aneka resep di dalam WarungCurhat bisa dikirimkan ke redaksi WarungCurhat melalui kotak comment yang tersedia.

informasi gambar (google search)

  • Share/Bookmark

Apa Keuntungan Memakai Vibrator?

T: Apa keuntungannya menggunakan vibrator?

J: Jika Anda sulit menemukan pasangan yang tepat ataupun jika pasangan Anda saat ini tidak dapat memberikan kepuasan seksual, vibrator yang dioperasikan oleh baterai ini dapat menjadi pilihan. Vibrator dapat membantu mencapai kepuasan tersebut, baik sendiri maupun ketika digunakan bersama pasangan saat berhubungan intim. Biasanya, orgasme atau kepuasan seksual bisa dicapai lebih cepat jika menggunakan vibrator.

Tags: ,

SENYUMAN YANG TERBAIK (Part. 2)

Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.”

Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-2ku! ” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami.

Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.”

Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya .

“Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.”

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.”

  • Share/Bookmark

SENYUMAN YANG TERBAIK (Part. 1)

Kisah dari salah satu teman yang layak untuk kita renungkan.
“Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah..

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ ditempat itu.

Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.”

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.”

  • Share/Bookmark

Powered by Yahoo! Answers