Menikmati Hari Ini

You may also like...

1 Response

  1. Don says:

    Sebagai orang yang beragama, dan sudah banyak mendapatkan pengalaman dalam usia gua yang berapa tahun lagi menjelang kepala 4, gua merasa kalau segala hal yang telah dan akan terjadi dalam hidup ini sudah ada polanya, kita sebagai manusia menjalani suratan takdir yang telah Tuhan gariskan, tapi bukanlah sesuatu yang mutlak karena kita itu bukanlah boneka yang hanya dipermainkan oleh takdir, yang konon kata segelintir orang, sangatlah kejam. Dalam perjalanan hidup ini, ada beberapa hal yang sudah tidak dapat kita ubah, suka atau tidak harus kita terima. Seperti jika kita lahir dalam keluarga yang kaya, miskin, cacat, sempurna, genius, ataupun idiot. Tidak mungkin ada orang yang menginginkan lahir dengan kekurangan baik fisik maupun materi. Namun dalam perjalanannya, kita lebih banyak dihadapkan pada pilihan2, apa yang benar2 mau kita lakukan. Walaupun cacat fisik, tak punya tangan dan kaki, bukannya berarti sudah tidak ada harapan dan pasti berakhir di pinggir jalan jadi pengemis yang meminta belas kasihan orang. Banyak kita lihat orang yang lahir dengan cacat fisik ataupun mengalami kecelakaan sehingga jadi cacat, terus berjuang untuk mandiri dan tidak dikasihani orang lain. Semua itu kembali ke diri masing2 individu ybs. Kemalasan adalah momok utama yang membuat suatu bangsa menuju kehancuran. Tidak peduli betapa kayanya orang tersebut, baik cacat atau sempurna, jika dia tidak mau bekerja, hanya bermalas2an saja melewati hari demi hari, tidak berbuat kebaikan terhadap sesama, sudah pasti gunung mas pun akan berubah menjadi jurang yang kering. Begitu pula dengan sebaliknya, walau kita terlahir miskin, baik sempurna atau cacat, jika kita rajin berusaha secara positif, membantu sesama, berbuat kebaikan, cepat atau lambat kita dapat merubah kemiskinan itu, setidaknya tidak dalam keadaan berkekurangan lagi, walaupun tidak kaya raya. Pasti akan ada pertolongan dari pihak lain.
    Kaya dan bahagia atau tidak itu suatu kondisi yang relatif, tidak ada patokan yang betul2 bisa dijadikan standar pengukuran. Masalah kaya atau miskin, bahagia atau tidak, inilah topik yang paling sering ditanyakan oleh manusia saat pergi meramal. Manusia begitu takutnya jatuh miskin atau tidak bahagia dalam hidup (tidak dapat jodoh dsb). Mereka berlomba2 mencari paranormal terbaik untuk melihat hal tersebut. Akibatnya, saat diramal baik, mereka jadi terlena dan melupakan kalau seharusnya mereka itu lebih berusaha agar hidup mereka menjadi lebih baik. Toh nasib gue bagus sekali koq. Ngapain pusing. Dan jika diramal hasilnya buruk, maka mereka dengan segala daya upaya akan meminta dicarikan jalan keluar agar terlepas dari semua kesialan yang akan menghadang. Dengan rela mengeluarkan biaya extra untuk mengatasi hal tersebut. Karena apa ?….. Karena malas, gak mau susah payah lagi mengatasi kesulitan yang katanya akan menghadang.
    Sebagai orang yang “tidak anti” ramalan, dan juga tidak “fanatik percaya” ramalan, gue melihat ramalan itu hanya sebagai tolok ukur. Saat di ramal bagus, gue tetap di jalur gue seperti biasa dalam berusaha, dan saat diramal buruk, gue akan berusaha lebih keras lagi supaya hal2 buruk yang diramalkan tidak terjadi. Tentu saja gue akan introspeksi diri, apakah ada kesalahan yang telah gua lakukan tanpa sadar selama ini, dan berusaha memperbaikinya. Kalau segala tindakan preventif sudah dijalankan, ternyata masih tertimpa kemalangan pula, maka itulah yang dinamakan takdir. Tapi selama kita masih mau berusaha, tidak mungkin Tuhan menelantarkan umatNya yang selalu berjalan di jalanNya. Dengan berusaha, tidak mungkin hidup kita akan sia2, kecuali memang kita yang menyianyiakannya.
    Begitu pula halnya dengan ramalan akan terjadinya kiamat 2012. Apa yang harus kita takutkan?
    Tahukah definisi sederhana dari kiamat itu ? Kiamat itu secara sederhana diartikan sebagai akhir dari dunia. Kalau dunia ini berakhir, artinya seluruh mahluk hidup penghuni dunia ini tidak akan ada yang bisa bertahan hidup lagi, segala hasil peradaban manusia selama ribuan tahun akan hancur dan kembali lagi ke titik nol, dimana tidak ada apapun yang tersisa. Kalau memang semua sudah ditakdirkan seperti itu, apa yang harus kita khawatirkan ? Justru yang harus kita khawatirkan kalau ternyata beberapa dari kita ketinggalan, alias tidak bisa mati. Bagaimana kita bisa menjalani hidup didunia yang sudah rusak berat, dengan jumlah manusia yang sangat terbatas, tidak ada makanan atau apapun juga. Bayangkan betapa sengsaranya saat itu……
    Sebagai orang yang mengerti dan menerapkan ajaran agama dengan baik, tidak ada hal yang perlu ditakutkan berkenaan dengan kematian atau kiamat ini. Jika dalam hidup kita menaati dan menjalankan perintah Tuhan, berbuat kebaikan sebagaimana mestinya, saya yakin tidak akan ada kekhawatiran tentang itu.
    Hidup itu laksana perjalanan air dari mata air di gunung, melewati bebatuan besar dan kecil, sampai akhirnya ke laut. Saat baru keluar dari mata air, air itu jernih, sejernih pikiran bayi yang baru dilahirkan. Kemudian melewati batuan besar dan kecil, berkelok-kelok, ada yang landai, ada yang curam, air akan tercampur pasir dan lumpur. Sama halnya dengan kehidupan ini, kita akan mengalami benturan2 baik itu kecil maupun besar, tergantung bagaimana kita menyikapi hal tsb. Ingatlah, kita tidak mungkin memperoleh semua yang kita inginkan. Tidak perlu dipikirkan sampai menderita, karena hidup harus jalan terus. Ketika air sudah tercampur pasir dan lumpur, menjadi kotor, namun dalam perjalanannya lambat laun akan menjadi jernih kembali. Begitu pula dengan kehidupan manusia, yang tak luput dari dosa dan kesalahan, namun jika dia mau sadar dan kembali ke jalan Tuhan, tidak ada kata terlambat untuk itu. Hingga perjalanan air tadi berakhir di lautan luas. Akhir dari perjalanan hidup manusia adalah kematian. Hal tsb juga berbeda2, ada yang sampai tua, ada pula yang mati muda. Namun sepanjang aliran air tadi, daerah sekitarnya pasti subur dan gembur. Sama halnya dengan hidup ini, jika kita mengisi hidup ini dengan cinta kasih terhadap sesama, tindakan nyata inilah yang akan menciptakan dunia yang lebih baik bagi semua umat manusia. Sehingga hidup kita menjadi lebih berarti dan dapat diteladani oleh generasi penerus kita.

Leave a Reply