Hari Kurban atau Korban?

Selamat Idul Adha ya buat teman-teman yang kemarin baru saja merayakannya. Bagaimana perayaan Idul Adha teman-teman kemarin? Hari raya kemarin bisa dibilang cukup menyenangkan karena bertepatan juga dengan Hari Kejepit Nasional, alias Harpitnas, hehehe… saat ini mungkin banyak teman-teman kita yang sedang menikmati liburan panjangnya.

Hari kurban di desa dan di kota besar sangat berbeda, di kota-kota seperti Jakarta dan Surabaya kemarin terbilang cukup sepi karena banyak yang melakukan aktifitas pulang ke kampung halaman. Tetapi Idul Adha kemarin juga tidak terlalu berjalan lancar. Satu hari setelah pesta kurban usai menyisakan beberapa berita menyedihkan tentang acara pembagian kurban.

Banyak warga yang terluka saat diadakannya acara pembagian kurban. Banyak warga yang berbondong-bondong datang ke masjid-masjid setempat dan rela berdesakkan dengan warga lainnya untuk mendapatkan jatah daging kurban. Sangat menyedihkan memang. Karena di Indonesia sendiri tidak hanya sekali terjadi peristiwa demikian.

Hal ini juga disebabkan karena kurangnya koordinasi untuk keselamatan warga saat acara pembagian hasil kurban. Kelebihan kapasitas manusia yang hadir tidak diimbangi dengan kapasitas tempat yang disediakan. Akibatnya banyak korban ibu-ibu, orang tua, dan bahkan anak-anak kecil yang sampai harus terinjak-injak orang lain akibat padatnya masyarakat yang mengantri pembagian.

Sangat disayangkan memang karena seharusnya perayaan yang bisa memberi berkah bagi sesama berubah menjadi perayaan yang merugikan banyak orang. Seharusnya acara-acara amal sudahn harus dikoordinasikan dengan petugas keamanan setempat. Kurangnya petugas di lapangan menyebabkan tidak tertibnya warga yang mengantri pembagian kurban.

Tetapi warga yang membandel dan tidak mau mengantri juga menjadi faktor lain penyebab peristiwa yang dapat merugikan banyak orang dan juga dapat memakan korban jiwa. Semoga saja kejadian-kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi karena nyawa 1 orang itu juga berharga untuk kita pertahankan.

2 thoughts on “Hari Kurban atau Korban?

  1. Kalau masalah seperti ini, gue gak begitu mengerti. Jadi mohon maaf yang sebesar2besarnya kalau comment gua salah. Beberapa kali gua lihat di berita korban pembagian daging kurban ataupun uang THR. Seharusnya bukankah yang berhak mendapat jatah itu adalah mereka yang tergolong tidak mampu, karena tidakmampu membeli daging atau jarang bisa makan daging (saat Idul Adha) dan memang tidak mampu atau tidak memiliki uang (saat Idul Fitri). Tapi kenyataannya saat disorot kamera, banyak sekali dari yang antri itu mereka yang berpakaian layak sekali, bahkan bisa digolongkan keren, dengan perhiasan dan kerudung yang sama sekali tidak bisa di golongkan fakir miskin. Seharusnya ada standar yang jelas bagi para pengantri sedekah seperti itu. Karena mental yang buruk dari sebagian besar masyarakat kita itu, kalau ada yang namanya gratisan, siapa cepat dia dapat. Sedangkan mereka yang seharusnya berhak, fakir miskin yang tua dan tidak berdaya akhirnya tidak sanggup untuk berdesak2an dan memilih untuk tidak ikut antri atau yang tetap nekad antri akhirnya menjadi korban. Di sini kita bisa melihat betapa keserakahan sudah mendarah daging dalam hati sebagian besar masyarakat Indonesia sehingga tidak ada rasa malu saat mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Mereka yang pada dasarnya bukan orang kaya, tapi bukan pula golongan yang berkekurangan, gua rasa tidak seharusnya memperebutkan sedekah seperti itu. Bukankah mereka masih mampu untuk membeli daging atau bahkan menyisihkan uangnya walau tidak banyak, untuk membantu mereka yang jauh lebih berkekurangan. Sangatlah sulit merubah kondisi yang sudah seperti ini, apalagi para petinggi negara ini juga berlomba2 untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan, sehingga ditiru oleh masyarakat luas. Sedih rasanya melihat kejadian yang menimbulkan korban berulang hampir setiap tahun belakangan ini. Dan anehnya komentar dari reporter televisi itu seakan menyiratkan kalau kejadian seperti ini akibat dari meningkatnya angka kemiskinan di negara kita. Seharusnya mereka bisa membedakan mana yang benar2 miskin karena keadaan, dan mana yang miskin karena kemalasan.

  2. hmmm… Memang kalau dipikir lagi benar juga ya, mereka yang tidak layak antri malah ikut antri, sulit juga kalau mau membahas kasus ini, soalnya masalah seperti ini memerlukan tinjauan langsung ke orang-orang yang bersangkutan, tapi masukannya bagus. Sukses saja untuk bangsa kita.

Leave a Reply