Pro dan Kontra Kunjungan Miyabi

Maria OzawaSebagian dari kita mungkin sudah kenal atau familier dengan nama Miyabi. Ya bintang panas yang berasal dari Jepang ini rencananya akan mengadakan syuting di Indonesia. Miyabi yang memiliki nama lain Maria Ozawa adalah artis panas papan atas di Jepang. Setiap bulannya ia selalu exist membintangi beragam film panas di Jepang.

Semenjak ia di kabarkan akan memulai syuting untuk rumah produksi di Indonesia, banyak masyarakat di Indonesia yang semakin penasaran dengan sosok Miyabi. Tak sedikit mereka yang mulai mencari informasi dan bahkan mendownload film-film yang ia bintangi. Fenomena ini bisa memberi dampak yang negative bagi kaum muda bangsa kita karena semakin ia diberitakan maka semakin banyak yang penasaran.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri melarang kedatangan artis tersebut karena takut akan merusak moral bangsa kita. Meskipun film yang nantinya akan diberi judul “Menculik Miyabi” ini tidak mengandung adegan tidak seronok, tetapi Miyabi sendiri dikawatirkan akan merusak kaum muda tanah air. Semakin banyak yang mengenal sosok Miyabi maka akan semakin banyak yang mulai mencari dan suka pada film-film yang dibintanginya.

Apalagi kaum muda Indonesia adalah kaum yang masih sensitif dan masih naif terhadap hal-hal yang berbau seks karena pelajaran seks sendiri masih sangat sedikit diterapkan sebagai kurikulum pendidikan di Indonesia. Dikhawatirkan demam Miyabi akan menjamur di segala kalangan.

Entah apa yang dipikirkan oleh House production yang mengundang Miyabi untuk bermain dalam film tersebut. Mungkin mereka bermaksud baik dengan membuat ide yang lain daripada yang lain dan hanya bertujuan untuk menyegarkan nuansa film di tanah air, tetapi apa mereka juga tidak memikirkan dampak lainnya yang akan ditimbulkan? Bukankah harus disadari bahwa bangsa kita ini bukan bangsa liberalis yang membebaskan segalanya.

Sebaiknya kalaupun film ini jadi dibuat sebaiknya film ini diberi nilai dan makna yang positif. Jangan hanya untuk membuat film yang menghibur saja, tetapi juga bisa menjadi film yang memberi pendidikan bagi semua kalangan. Dikawatirkan bila segala budaya yang masuk tidak disaring dahulu maka akan membuat rusak budaya dari negara kita sendiri. Janganlah kita hanya berkarya berdasarkan komersil, tetapi benar-benar terpakai dan berguna bagi semua orang.

Leave a Reply