Komposter, Tambulampot, Sehat, Teduh

Dari Kampung Kambing, ke Kampung Kembang

Lingkungan hijau dan bersih bukan hanya milik orang kaya. Permukiman padat Tugu Selatan tepatnya di lingkungan RT 03 (sekitar jalan Plumpang, Jakarta Utara) berubah asri lewat gotong royong warganya. Orang yang tahu riwayat daerah Tugu Selatan mungkin akan heran dengan kondisinya yang sekarang. Apalagi di Plumpang, Jakarta Utara sudah dikenal dengan cuaca panas dan jalanan berdebu, belum lagi permukiman padatnya, yang juga padat denga tangki-tangki minyak milik Pertamina.

Daerah ini dulunya  terkenal dengan sebutan Kampung Kambing, akibat banyaknya kambing yang bebas berkeliaran, kini tidak lagi menampakkan kekumuhannya. Bahkan sebaliknya bersih dan indah. Warga percaya aktivitas bersih lingkungan juga mempengaruhi kesehatan. Dalam dua tahun terakhir ini, penderita demam berdarah di kelurahan Tugu Selatan menurun drastis 50%, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Penghijauan di kelurahan ini adalah penghijauan murah, karena menggunakan pot-pot bunga dari barang bekas seperti kaleng cat atau wadah apa saja. Bibit tanaman pun dibiakkan dari warga yang sudah ada. Kegiatan ini juga merangkul beberapa RW sekelilingnya, tujuannya agar warga sadar akannya penghijauan. Di lingkungan RW 03 yang dihuni 2.300 kepala keluarga (KK) telah dihiasi sekitar 18 ribu pot aneka tanaman di rumah-rumah warganya. Awalnya dibuat target 10 pot per KK.

Komposter – tong pembuat kompos

Mata rantai yang tidak bisa lepas di dalam penghijauan antara lain adalah sampah, bahkan sampah adalah yang jadi masalah utama. Perkumpulan warga ini yang menamakan dirinya Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL), mengurangi masalah sampah dapur, misalnya dengan membuat alat komposter dari tong air, lebih efisien, karena bisa digunakan secara bersama oleh 10 KK dan tidak berantakan dibandingkan dari komposter Takakura (keranjang bekas baju).

Tong air ini diberi lubang kecil-kecil di bagian bawah, dan tengahnya diberi pipa untuk udara. Terbukti, tong komposter ini sama efektif dan kebersihan terjaga karena lebih rapat. “Sisa sayur tinggal dimasukkan ke tong saja. Jadi mengurangi sampah dan komposnya dipakai sama-sama,” kata Ketua RT 17 Basirun yang menggunakan tong bersama warganya. Tong pembuat kompos ini pun dilirik daerah lain. Setiap tong dihargai Rp75 ribu. Untuk proses produksinya, orang tua bergotong royong  mengerjakan bersama para pemuda di sana.

Selain mempersiapkan usaha pembuatan tong komposter, MPL kini merintis bisnis “Tanaman Buah Dalam Pot” (tambulampot). Kegiatan lingkungan ini bukan hanya menyehatkan, melainkan juga menyejahterakan warganya. “Ternyata enak juga kalau di lingkungan kita ada banyak pepohonan. Suasana jadi teduh,” kata Sriyono salah satu warga. 🙂 Ya iya lha yaaaw…, udah teduh, bisnis lancar juga.

Untuk menjadi lingkungan yang manusiawi seperti ini di Jakarta, tidak sesederhana terjadi begitu saja. Perlu ada “kesadaran warga” yang dipupuk bersama-sama.

Leave a Reply