Cintailah Orang Tuamu

You may also like...

1 Response

  1. Don says:

    Membaca artikel diatas, gua jadi ingat masalah yang gua alami sendiri antara gua dan bokap gua dulu. Gua sebagai anak laki ke dua, dari 4 bersaudara cowok semua. Jadi gua merasa banget kalo sesama saudara sendiri, kita itu dibandingkan satu dengan yang lainnya. Dan itu membuat gua merasa jengkel setengah mati sama bokap gua karena gua merasa dia itu selalu mencari2 kesalahan dan kekurangan gua, lalu mencela atau nyindir, baik di depan orang banyak. Jadi bawaan gua tuh udah bete aja kalo di depan dia. Jadi gua selalu menghindar kalo pas makan, atau keluar bareng. Inilah yang terjadi kalo gak ada komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Beruntungnya, nyokap gua itu sangat bijaksana dan pengertian. Dia tau banget kalo gua bete sama bokap, so dia selalu berusaha mengingatkan dan memberi pengertian yang baik ke gua saat gua bete. Kesalahpahaman dan ketidakharmonisan antara gua dan bokap gua itu berlangsung cukup lama. Sejak gua kecil hingga gua SMU. Betapa menderitanya gua selama itu. Gua merasa tertekan, bahkan gua pernah berdoa agar Tuhan cepat2 aja panggil gua. Hopeless banget kan gua.
    Jadi dalam benak gua, udah terbentuk pikiran kalo gua itu bukan anak yang bisa bokap gua banggakan. Sedangkan kebanggaan dia itu adik gua yang paling kecil. Jadi dia selalu mendapat pujian baik didepan saudara maupun orang luar. Di sini kita bisa melihat betapa kurangnya komunikasi bisa berdampak begitu buruk sehingga terjadi kesalahpahaman yang mengakibatkan pikiran negatif, yang ujung2nya bisa membuat kita begitu menderita. Karena jarang berkomunikasi dengan bokap, gua jadi tidak bisa mengerti gaya bicaranya, sehingga diapun merasa gua anak yang kurang ajar, karena gak pernah mau bercakap2 ke dia. Dan parahnya, baik gua maupun dia sama2 merasa diri kita yang paling benar.
    Sejak kecil, gua sangat aktif bersosialisasi, jadi teman gua banyak sekali. Karena itu, gua banyak melihat hubungan teman2 gua dengan orang tuanya masing2. Di sinilah gua menyadari kalau ternyata gua tuh bukan orang yang paling malang sedunia. Begitu banyak teman2 gua yang hubungannya jauh lebih buruk dari hubungan gua dan bokap gua. Bahkan ada yang udah gak punya orang tua sejak kecil, ada yang orang tuanya bercerai dan anaknyapun tidak mengetahui keberadaan salah satu pihak.
    Semakin dewasa, gua jadi semakin bisa berpikir, dan berusaha mengerti bokap gua. Pelan tapi pasti, gua mencari tau apa sebenarnya yang dia harapkan dari anak2nya, walaupun gak maksimal, akhirnya hubungan gua jadi lebih baik, dan bokap gua pun tampaknya bisa melihat hal positif dari dalam diri gua yang bisa dia banggakan di depan kerabatnya. Ternyata celaan yang dilontarkan selama ini, tujuannya supaya gua itu bisa berbuat lebih maksimal, karena sebagai cowok, gak boleh melempem. Begitulah kira2 maksud hati dia yang sesungguhnya, namun dia tidak bisa memilih kata2 yang lebih halus.
    Saat mengetik cerita ini, gua jadi larut dalam kesedihan, karena bokap gua sudah meninggal pada 2007, dan itu merupakan suatu goncangan buat keluarga gua. Kita semua merasa bokap belum terlalu tua saat itu, baru 59 th, walaupun sudah sering sakit, tapi kita tidak menyangka kalau dia akan pergi secepat itu. Beberapa tahun menjelang akhir hidupnya, dia pernah menasehati gua supaya menjalankan bisnis gua dengan hati2, jangan sampai mengalami kesalahan seperti yang pernah dia lakukan, dan dari cara bicaranya, tampak sekali kalau dia itu bangga akan gua. Ternyata dia sering memuji kelebihan anak2nya satu persatu didepan teman2nya, tanpa berkesan sombong dan berlebihan, dan itu baru gua ketahui dari cerita teman2nya yang hadir saat dia meninggal.
    Gua sangat berterima kasih pada Tuhan YME, karena gua diberi kesempatan untuk berdamai dan memperbaiki hubungan yang gak karu2an akibat dari tidak adanya komunikasi yang baik ini.
    Pesan gua bagi semua yang masih mempunyai orang tua yang lengkap, jangan pernah menunda2 untuk berbakti pada orang tua kita. Orang tua juga manusia, yang tak luput dari kesalahan, baik itu sadar maupun tidak, tapi kita sebagai anak sekaligus pihak yang lebih muda, berusahalah mengerti mereka. Tirulah segi positif mereka, tinggalkan yang negatifnya, karena tanpa orang tua, tak akan ada kita hari ini. Dan kita tidak pernah tau kapan mereka akan pergi meninggalkan kita, sehingga pada saat itu tiba, tidak akan ada kata penyesalan. Jangan pernah lupakan ini. I Love You Dad and Happy Father’s Day, June 20, 2010. We’ll Never Forget You.

Leave a Reply