Rp.500

Ada satu kisah yang sangat menarik untuk kita renungkan. Pada suatu hari ada seorang pengusaha yang sedang bercukur di sebuah salon kecil di pinggir jalan. Ketika sedang bercukur, tukang cukur itu berkata kepada pengusaha, “Pak, anda lihat anak itu?”, kata si tukang cukur sambil menunjuk seorang anak yang bermain tidak jauh dari sana. Pengusaha hanya bergumam sambil menganggukkan kepala tanda ia tahu. Lalu tukang cukur melanjutkan pembicaraan lagi, “Pak apakah anda tahu bahwa anak itu adalah anak terbodoh di dunia?”, pengusaha akhirnya penasaran dan mulai tertarik dengan pembicaraan itu, “apa yang mebuat bapak berpikir demikian?”, kata pengusaha.

“Biar saya tunjukkan kepada bapak”, jawab si tukang cukur. Setelah itu tukang cukur memanggil anak tersebut, ia menyodorkan pada anak tersebut uang logam Rp.500 dan selembar Rp.1000, tukang cukur menyuruh anak tersebut untuk memilih diantara kedua uang tersebut untuk dijadikan miliknya. Anak itu terdiam sejenak lalu ia meraih koin Rp.500 lalu berlari pergi dari tempat itu. Dengan tersenyum puas tukang cukur kembali kepada pengusaha lalu ia berkata, “Anda lihat kan betapa bodohnya anak itu.”
dalam perjalanan pulang setelah bercukur, pengusaha bertemu dengan anak tersebut lagi di jalan, karena penasaran ia menghampiri anak itu dan bertanya pada anak itu mengapa ia memilih uang logam Rp.500 tersebut. Pada awalnya anak itu hanya diam dan tampak ragu untuk menjawabnya, dan akhirnya anak itu berkata, “Jika saya memilih untuk mengambil selembar uang Rp.1000 itu, maka lain kali saya tidak akan dites lagi oleh bapak tukang cukur dan saya tidak bisa mendapat Rp.500 lagi”. Pengusaha itu merasa terkejut dengan jawaban anak tersebut, sambil berjalan pergi ia tersenyum dan berkata dalam hati ‘sebenarnya siapa yang lebih bodoh?’

Teman-teman cerita tersebut dapat memberi kita inspirasi dan pemahaman baru, cerita tersebut mengingatkan kita bahwa janganlah kita menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja, bisa jadi seorang yang kita anggap bodoh itu ternyata lebih pintar daripada kita. Belakangan ini kita lihat banyak juga orang yang hanya menilai seseorang dari penampilannya saja, ketika kita melihat seorang yang meminta sumbangan kita langsung merasa curiga dengan orang tersebut ‘jangan-jangan dia penipu’, padahal belum tentu orang itu mau berniat menipu kita. Sehingga akhirnya kita jadi batal untuk beramal malah pada akhirnya kita membuat kesalahan dengan menilai orang tersebut.

Sebaiknya kita mulai melihat seseorang jangan hanya dari penampilannya saja, bisa jadi justru orang yang kita anggap baik itulah yang justru menjatuhkan kita. Belakangan ini kita mulai mengkawatirkan lagi tentang masalah krisis moral, di era yang sedang maju saat ini banyak sekali orang yang mulai menaruh curiga kepada ‘saudara’nya sendiri. Pada akhirnya hal ini memicu kurangnya toleransi antar masyarakat. Hal inilah yang akhirnya dapat memicu perpecahan dalam masyarakat, karena satu dengan yang lainnya bersikap saling mencurigai.

Nah teman-teman, kita yang merupakan salah satu anggota masyarakat sebaiknya mulai menciptakan sikap saling bertoleransi. Janganlah kita saling mencurigai satu dengan yang lainnya tapi mualilah dengan tindakan sederhana kita mulai dari hari ini. Kita pasti bisa melakukan hal paling sederhana ini, yaitu dengan tersenyum, itulah awal kita menciptakan keharmonisan hidup, selamat mencoba ya. ^_^

Leave a Reply