Jember Fashion Carnaval 2009

J E M B E R,
Boleh jadi hanya kota kecil di pesisir selatan Jawa Timur
Berpenduduk 200 juta lebih, namun….
Dari sini telah muncul gelombang kreativitas
Yang seolah tak terbendung…
Dari kota ini, putra-putri daerah bahu membahu, saling mendukung,
Menghasilkan suatu karya perpaduan antar budaya, disain, kostum, music,
Tari,dan warna yaitu…. Jember Fashion Carnaval (JFC).

Pada awal JFC dibuat, salah satunya karena ingin menjadikan kota kecil ini punya sesuatu yang tidak dimiliki kota lain. Tahun ini delapan kali sudah JFC diselenggarakan dan kembali  menuang sukses dengan menyedot kurang lebih 300.000 penonton. Mata dunia Internasional terarah ke wilayah ini tiap kali JFC diselenggarakan.

Sekitar 600 peserta terdiri dari pelajar, mahasiswa dan umum. Mereka yang pada umumnya tidak menempuh pendidikan di bidang fashion, memperoleh in house training secara cuma-cuma selama 6 bulan, dan berhak untuk mengikuti kompetisi memperebutkan  75  trophy yang telah disediakan.

JFC menampilkan busana kreasi dan menunjukkan koreografi yang selaras, tahun ini dengan tema. “World Unity” (Damaikan dan Satukan Dunia ) sebagai simbol perdamaian dunia. Tema diterjemahkan secara bebas dan kreatif ke dalam desain busana, music, gerakan dan ekspressi.

Menyikapi  perkembangan dunia sesuai dengan tema World Unity, Bupati Jember,

MZA Djalal, dalam sambutannya mengatakan,

“Karena factor sosial, ekonomi, budaya maupun politik antar negara bisa bermusuhan. Belum lagi akibat lain, seperti dampak global warming, krisis pangan, teroris, peperangan, kemiskinan, dan masih banyak lainnya. Karenanya dengan JFC ke-8 kali ini, marilah kita  menjadi sekian orang yang ikut serta dalam menyatukan dan memberikan pesan damai bagi dunia”.

450 peserta karnaval tampil dengan kostum rancangan sendiri fashion run away dan fashion dance dalam parade di catwalk berupa jalan raya, menjadikan JFC sebagai catwalk terpanjang di dunia sepanjang 3,6 km. Para wisatawan domestic atau mancanegara, ratusan wartawan, pehobi fotografi tak melewatkan ajang acara ini. Dan sekarang JFC  berkembang menjadi icon kota Jember.

Adapun kesepuluh subtema yang ditampilkan pada 2 Agustus 2009:

  1. Perisai, dipakai untuk kelompok  JFC marching band, dengan tema Perisai, didominasi oleh warna merah, emas, putih, hijau, hitam. Terinspirasi dari lambang negara Indonesia yaitu Burung Garuda, yang melambangkan kekuatan, kekokohan, keadilan, perdamaian dan persatuan.
  2. Upper Ground, bentuk sikap dari krisis pangan di sebagian negara di dunia. Diharapkan mengingatkan kita bahwa krisis pangan tidak boleh terjadi di belahan bumi manapun. Pakaiannya memakai banyak sayur, buah dll.
  3. Animal Plants, di dalamnya ada pesan Lingkungan, diberikan contoh dengan hewan dan tumbuhan liar yang tumbuh menyatu dengan alamnya
  4. Off Life, yang kental dengan dandanan gothic serba hitam untuk menggambarkan kreativitas manusia yang terbelenggu padahal punya banyak potensi;
  5. Hard Soft, yang menolak perang dengan menggabungkan warna army sebagai simbol perang dan putih untuk keselamatan dan perlindungan
  6. Container, yang menyinggung soal pasar bebas dan  perkembangan industri, serta kesiapan pemerintah dalam menyikapinya;
  7. Rhythm, yang mencoba menyuarakan indahnya perbedaan yang dipresentasikan dalam inspirasi alat musik tradisional hingga tekno.
  8. Tekno Eth, agar masih kenal budayanya, dikenalkan juga etniknya. Tapi tetap disentuh dengan kondisi sekarang. Walaupun dari segi budaya, kita melihat anak remaja itu sudah tahu ke depannya akan seperti apa.
  9. Budaya Indonesia (Tahun 2009 giliran Ranah Minang) Dengan latar belakang budaya dan sejarah, agar makin dikenal dunia Internasional. yang diangkat, dipresentasikan dalam balutan  mewah, fantastis, dan monumental. Warna emas, merah, hijau, dan hitam menjadi symbol kejayaan Indonesia pada jaman monarki.
  10. Closing, defile penutup yang membawakan tulisan See u in the next JFC, diikuti oleh seluruh event organizer JFC dengan harapan bisa bertemu kembali di event JFC ke-9 tahun 2010 nanti.

Sebuah fashion sudah pasti tak akan pernah terlepas dari perangkat alat riasnya. JFC mendapatkan support product dari Sariayu Martha Tilaar yang bekerja sama dengan Puspita Martha International Beauty School, yang baru-baru ini mendapatkan penghargaan peringkat pertama. Lomba Lembaga Kursus dan Pelatihan Berprestasi tingkat Nasional 2009 (rumpun kesehatan dan kecantikan) yang dikeluarkan oleh Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan DITJEN PNFI – Depdiknas.

Dynand Fariz, training teacher di ESMOD Paris yang merupakan sang penggagas sekaligus Presiden JFC, menyatakan antusiasmenya akan keikutsertaan produk kosmetik dari Indonesia sendiri yaitu Sariayu. “Produk Sariayu mampu menghadirkan citra Indonesia untuk dunia, Sariayu membuktikan bahwa Indonesia kaya dengan warna dan budaya. Dan JFC mewujudkan mimpi bersama Trend Warna Sariayu di setiap tahunnya”. Kini, JFC sudah pernah tampil di Inggris, Mumbay, dan Shanghai, target selanjutnya adalah ke Brazil, tepatnya Rio de Janeiro yang punya kegiatan karnaval legendaris.

Leave a Reply