Janji Pasca Pemilu

Gempa yang baru saja melanda pada tanggal 2 September kemarin kembali menguncang dan mencobai Indonesia. Gempa bumi berskala 7.3 SR yang terjadi 142 km barat daya Tasikmalaya menyisakan lagi satu goresan bencana di Indonesia.

Lagi-lagi berita yang sama kembali kita dengar di sejumlah media bahwa kembali terulangnya ketidak pedulian pihak-pihak politik pada korban bencana di Tasikmalaya. Mereka mempertanyakan uluran bantuan sejumlah partai politik yang memberi janji saat mengkampanyekan partai mereka agar dipilih saat pemilu. Berbeda sekali saat terjadi bencana di Gintung, ketika itu bertepatan dengan kampanye partai polotik menjelang pemilu.

Pada waktu itu banyak dibangun pos-pos bantuan dari pihak partai-partai politik. Tapi kenyataannya berbeda dengan bencana gempa kali ini, minimnya pos bantuan membuat rakyat mempertanyakan kembali janji dari parpol lainnya. Sejauh ini baru ada dua partai politik yang benar-benar menyalurkan bantuannya.

Mereka menuntut komitmen parpol yang mereka pilih pada pemilu lalu, tidak ada realisasi dari janji mereka pasca pemilihan pemilu. Berita ini kita dapat saat menyaksikan tayangan Liputan6, kita jadi kembali berpikir beginikah sikap dan metode dalam berpolitik?

Peribahasanya “habis manis sepah dibuang”, mereka memberikan janji-janji yang manis pada kita, tetapi setelah pesta rakyat selesai dan mereka mendapatkan kursi masing-masing mereka mulai melupakan janji mereka kepada rakyat. Mereka mulai terbuai dengan kekuasaan yang sudah mereka dapat.

Sebenarnya hal seperti ini sudah menjadi rahasia umum. Ketika mereka membutuhkan dukungan dari rakyat mereka menjanjikan sejumlah kemakmuran bagi rakyat. Tetapi setelah mereka mendapatkannya mereka akan mengabaikan rakyat yang telah memilihnya dengan alas an berbagai kesubukan, bahkan hal ini terulang setiap lima tahun. Mereka membuai rakyat setiap lima tahun sekali. Ck…ck… sangat disayangkan, tetapi inilah gambaran politik di Indonesia. Sangat sedikit mereka yang benar-benar peduli pada kepentingan rakyat. Dan inilah manusia.

Leave a Reply