Batik dan Maestro Batik Indonesia

Siapa yang tak kenal Iwan Tirta, sang Maestro Batik Indonesia, bukan hanya perancang baju biasa tapi juga perancang batik hingga terangkat pamornya  di dunia mode  International.

Selain mendisain batik, Iwan Tirta juga mengenal seluk beluk batik Indonesia, hal ini dituangkan dalam bukunya, Batik, A Play of Light and Shades (Gaya Favorit Press, 1996). Dia menyebutkan, batik boleh jadi berkembang bersamaan di beberapa tempat di dunia, tapi ada perbedaan tertentu pada batik Indonesia

Batik sebagai teknik merintang warna bukanlah batik  khas Indonesia.  Batik kita ternyata ada bibit, bebet, bobotnya lho, he he he kayak mau cari jodoh ya…

Belajar dikit yuk bibit, bebet dan bobotnya batik dari pengetahuan Iwan Tirta, kalau bukan kita yang belajar, siapa lagi ?  sebelum keburu disamber orang lain, tul nggak….?

Batik di Jawa. Batiknya menjadi sangat halus karena coraknya berkembang luas, metode pewarnaan sangat maju dan ada penyempurnaan teknik. “Canting” yang memungkinkan pembuatan motif, misalnya, sangat halus berkembang di Jawa. Termasuk teknik pewarnaannya. Cikal bakal batik bentuknya lebih sederhana.

Iwan TirtaKain simbut dari Banten adalah salah satu batik paling awal, menggunakan bubur nasi sebagai perintang warna (Iwan Tirta,  A Play of Light and Shades).

Kain ma’a dari Toraja di Sulawesi Tengah juga memakai bubur nasi. Karena Toraja terisolasi di pegunungan, para ahli menduga kemungkinan besar batik itu asli dari sana, tidak dipengaruhi India. Hal ini memunculkan teori boleh jadi Indonesia juga melahirkan batik pertama.

Dalam bukunya A Play of Light and Shades, Iwan Tirta juga menyebutkan, pada akhir abad ke-19 seorang akademisi, Rouffaer, melaporkan motif batik sehalus gringsing sudah diproduksi pada abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Corak seperti sisik ikan adalah salah satu motif tersulit dan dia menyimpulkan, besar kemungkinan motif itu dibuat memakai canting.

Serta tak dapat dipungkiri, bahwa dalam perkembangannya batik memiliki keterkaitan kuat dengan kesenian  daerah pada waktu itu, yaitu:

  • Seni wayang,
  • Tari
  • Lagu

Ragam hias batik Indonesia memiliki ciri yang terkait dengan komunitas (daerah ) pembuatnya:

  • Sebagian menggambarkan suasana jaman
  • Merekam alam sekitar
  • Diproduksi untuk keperluan komersial
  • Memenuhi kebutuhan adat dan tradisi.

Nah, udah lumayan ngerti dikit khan, bibit, bebet, bobotnya batik kita. Jadi pasti semakin yakin, khan, kalau batik adalah milik Indonesia. So pasti bangga, donk!

Leave a Reply