Aku dan Orang Tua

Teman-teman pernah gak kalian merasa tertekan dengan orang tua kalian? Atau mungkin saat ini kalian sedang mengalami masalah dengan kedua orang tua kalian. Kalian selalu berpikir, kenapa sih kita selalu dilarang ini dan itu sama ortu kita? Atau mungkin kita juga berpikir “mamaku bawel!” Untuk saat ini sejenak kita ‘stop!’ dulu pikiran-pikiran buruk kita pada orang tua kita.

Teman-teman tahu gak kalian sebenarnya apa yang orang tua inginkan dari anak-anaknya? Pasti mereka ingin yang terbaik bagi kita anaknya, ada istilah seganas-ganasnya seekor singa sendiri tidak akan mungkin memakan anaknya. Orang tua kita terkesan bawel dan melarang karena mereka sayang dan cinta pada kalian, coba saja kalian bayangkan gimana kalo ortu kalian cuek sama kalian? Kita pasti merasa gak diperhatikan dan akhirnya kita mencari perhatian ke dunia luar yang bisa saja berakibat negative.

Kita bisa mulai berpikir dari sisi ortu kita, mengapa mereka sangat protektif pada kita? Mengapa mereka bawel dan terkesan keras? Hal ini karena mereka sudah pernah mengalami masa-masa muda seperti kalian, dan mereka takut sesuatu yang buruk menimpa kalian. Misalnya ketika kita jatuh cinta, mereka hanya ingin tahu seperti apa pacar anaknya, dan ketika mereka melarang kita hal ini tidak sembarangan mereka lakukan.

Hal tersebut mereka lakukan dengan pertimbangan mereka sendiri. Jika mereka merasa ada sesuatu yang mengancam anak mereka, mereka pasti akan langsung protek pada kita. Solusinya hanyalah dengan membuat jembatan penghubung antara kita dan orang tua kita. Mulailah membuka diri kita pada orang tua, ceritakan apa yang menjadai beban masa remaja kita. Entah itu masalah kepercayaan diri, masalah cinta, ataupun masalah pelajaran.

Ada sebuah penelitian dalam sebuah buku yang kita mau bagikan, mengenai apa yang didengar oleh kita dan orang tua kita dari cara berbicara kita.

  • Kamu berkata, “Aku tidak mau bicara sekarang!” Bagi orang tuamu ini terdengar, “Aku sempat menonton DVD, dan memotong kuku tapi tidak punya waktu untuk kalian.”
  • Kamu berkata, “Kalian tidak mengerti maksudku.” Dan orang tua kalian mendengar sebagai, “Aku lebih tahu daripada kalian.”
  • Sebaliknya juga ketika ortu kalian berkata “Ketika aku seumuranmu…” kalian mendengarnya “Ketika dinosaurus mengembara di bumi…”

Teman-teman sudut pandang kita dan kedua orang tua kita pasti berbeda, mereka melihat sudut pandang mereka sebagai orang tua yang sudah lebih berpengalaman daripada kalian. Sementara kalian memandangnya sebagai seorang anak yang ingin diberi kepercayaan dan kebebasan tanpa memikirkan dampaknya dikemudian hari. Mulailah membangun sebuah jembatan yang dapat menghubungkan kalian, karena hanya dengan begitulah masalah bisa cepat kita selesaikan. Selamat mencoba. ^_^

One thought on “Aku dan Orang Tua

  1. Kadangkala, karena pengaruh teman, kita seringkali merasa orang tua mengekang kita. Kalau kita patuh, teman akan bilang kita anak mami atau anak rumahan. Sedangkan tipe pembangkang, yang jarang pulang, itu tipe anak gaul. Jadi orang tua perlu membina hubungan yang baik dengan anak2nya sejak dini, sehingga mereka jadi terbiasa mengungkapkan isi hati mereka, bertanya jika ada sesuatu yang tidak diketahui, dan orang tua juga jangan selalu menganggap anak2nya itu anak kecil selamanya. Karena, seringkali para orang tua tidak menyadari kalau anak2nya sudah beranjak remaja, bahkan dewasa, namun tetap memperlakukan mereka seperti anak2. Hal inilah yang akan membuat jarak antara orang tua dan anak, sehingga anak akan mencari kenyamanan di luar rumah, dan pengaruh negatif dapat dengan mudah menjebak anak2 tsb. Selain itu, para orang tua juga jangan terlalu tinggi menaruh harapan pada anak2nya, karena mereka akan merasa terbebani. Biarkanlah mereka berkembang secara normal, namun tetap di jalur yang baik, karena tiap orang memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda2. Jika masing2 pihak menyadari posisinya masing2, maka hubungan baik antara anak dan orang tua pasti dapat berjalan dengan baik.

Leave a Reply