Seberapa Beratkah?

Teman-teman ada sebuah cerita yang saya dapat dari pesan email yang dikirim teman saya, cerita ini sangat menarik dan cocok buat kita yang merasa sudah hamper putus asa saat menghadapi masalah kita. Berikut akan saya ceritakan kepada teman2.

TUHAN, bebanku berat… “Mengapa bebanku berat sekali?” aku berpikir sambil membanting pintu kamarku dan bersender. “Tidak adakah istirahat dari hidup ini?” Aku menghempaskan badanku ke ranjang, menutupi telingaku dengan bantal. “Ya Tuhan,” aku menangis, “Biarkan aku tidur…Biarkan aku tidur dan tidak pernah bangun kembali!” Dengan tersedu-sedu, aku mencoba untuk meyakinkan diriku untuk melupakan.

Tiba-tiba gelap mulai menguasai pandanganku, Lalu, suatu cahaya yang sangat bersinar mengelilingiku ketika aku mulai sadar. Aku memusatkan perhatianku pada sumber cahaya itu. Sesosok pria berdiri di depan salib. “Anakku,” orang itu bertanya, “mengapa engkau datang kepada-Ku sebelum Aku siap memanggilmu?”, “Tuhan, aku mohon ampun. Ini karena… aku tidak bisa melanjutkan nya. Kau lihat! betapa berat hidupku. Lihat beban berat di punggungku. Aku bahkan tidak bisa mengangkatnya lagi.”

“Tetapi, bukankah Aku pernah bersabda kepadamu untuk datang kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat, karena Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” “Aku tahu Engkau pasti akan mengatakan hal itu. Tetapi kenapa bebanku begitu berat?”.

“Anak-Ku, setiap orang di dunia memiliki beban. Mungkin kau ingin mencoba salib yang lain?”, “Aku bisa melakukan hal itu?”. Ia menunjuk beberapa salib yang berada di depan kaki-Nya. Kau bisa mencoba semua ini. Semua salib itu berukuran sama. Tetapi setiap salib tertera nama orang yang memikulnya. “Itu punya Joan,” kataku.

Joan menikah dengan seorang kaya raya. Ia tinggal di lingkungan yang nyaman dan memiliki 3 anak perempuan yang cantik dengan pakaian yang bagus-bagus.
Kadangkala ia menyetir sendiri ke gereja dengan mobil Cadillac suaminya kalau mobilnya rusak. “Umm, aku coba punya Joan. Sepertinya hidupnya
tenang-tenang saja. Seberat apa beban yang Joan panggul?” pikirku. Tuhan melepaskan bebanku dan meletakkan beban Joan dipundakku. Aku langsung terjatuh seketika. “Lepaskan beban ini!” teriakku. “Apa yang menyebabkan beban ini sangat berat?”, “Lihat ke dalamnya.” Aku membuka ikatan beban itu dan membuka nya.

Di dalamnya terdapat gambaran ibu mertua Joan, dan ketika aku mengangkatnya, ibu mertua Joan mulai berbicara, “Joan, kau tidak pantas untuk anakku, tidak akan pernah pantas. Ia tidak seharusnya menikah denganmu. Kau adalah wanita yang terburuk untuk cucu-cucuku…”. Aku segera meletakkan gambaran itu dan mengangkat gambaran yang lain. Itu adalah Donna, adik terkecil Joan. Kepala Donna dibalut sejak operasi epilepsi yanggagal itu. Gambaran yang ketiga adalah adik laki-laki Joan. Ia kecanduan narkoba,telah dijatuhi hukuman karena membunuh seorang perwira polisi.

“Aku tahu sekarang mengapa bebannya sangat berat, Tuhan. Tetapi ia selalu tersenyum dan suka menolong orang lain. Aku tidak menyadarinya…”

“Apakah kau ingin mencoba yang lain?” tanya Tuhan dengan pelan.

Aku mencoba beberapa. Beban Paula terasa sangat berat juga: Ia melihara 4 orang anak laki-laki tanpa suami. Debra punya juga demikian: masa kecilnya yang dinodai olah penganiayaan seksual dan menikah karena paksaan. Ketika aku melihat beban Ruth, aku tidak ingin mencobanya. Aku tahu di dalamnya ada penyakit Arthritis, usia lanjut, dan tuntutan bekerja penuh sementara suami tercintanya berada di Panti Jompo. “Beban mereka semua sangat berat, Tuhan” kataku. “Kembalikan bebanku”

Ketika aku mulai memasang bebanku kembali, aku merasa bebanku lebih ringan dibandingkan yang lain. “Mari kita lihat ke dalamnya,” Tuhan berkata.
Aku menolak, menggenggam bebanku erat-erat. “Itu bukan ide yang baik,” jawabku, “Mengapa?” “Karena banyak sampah di dalamnya.” “Biar Aku lihat” Suara Tuhan yang lemah lembut membuatku luluh. Aku membuka bebanku. Ia mengambil beberapa buah batu bata dari dalam bebanku.

Teman2 bukankah Tuhan sudah menjanjikan sebuah kuk yang akan membuat kita bisa lebih santai menjalani masalah demi masalah yang kita jalani. Janganlah kita cepat mengeluh dan berputus asa karena Tuhan selalu ada disamping kita untuk mendampingi kita. Mulailah banyak bersyukur, karena ternyata lebih banyak lagi orang yang lebih berat masalahnya tetapi bisa menjalaninya dengan tersenyum, selamat mencoba ya^_^.

3 thoughts on “Seberapa Beratkah?

  1. Dibalik semua yang terjadi dalam hidup ini, pasti ada rencana tersendiri yang masih menjadi misteri ilahi. Tapi ingatlah, bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi umatNya. Janganlah kita berputus harap. Percayalah…kalau badai pasti berlalu.

  2. 🙂 benar teman, hidup ini terlalu indah untuk kita lewatkan dan terlalu singkat untuk bisa kita sia-siakan:)

Leave a Reply