Negaraku, Negaramu, Negara Kita

Ada beberapa hal yang membanggakan dari Negara kita Indonesia saat ini, setelah presiden kita Bapak SBY masuk nominasi 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia versi majalah Times. Kini kita juga bisa membanggakan Menteri keuangan yang kita miliki yaitu Ibu Sri Mulyani Indrawati. Beliau menduduki urutan ke 71 sebagai wanita paling berpengaruh di dunia versi majalah Forbes. Wow.. tidak ada kata yang bisa kita ucapkan untuk mengungkapkan suatu kebahagiaan yang mendalam, akhirnya setelah sekian lama Indonesia memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan pada dunia.

Walaupun akhir2 ini nama Indonesia kembali tercoreng dengan munculnya terorisme, tetapi saya yakin Indonesia bisa tetap bertahan. Resesi yang beberapa pekan kemarin menyerang dunia bisa dilalui oleh Negara kita. Saya merasa salut atas kinerja kabinet SBY. Sudah seharusnya kita saling bekerja sama melaksanakan peran kita masing2. Bukannya malah saling menjatuhkan, padahal kita warga satu bangsa dan Negara.

Indonesia yang maju adalah cita2 kita bersama, masih banyak tugas2 yang belum kita selesaikan. Banyak sekali perubahan yang perlu kita lalui, karena menurut saya segala bencana yang terjadi selama ini merupakan proses yang harus dilalui Negara yang ingin maju dan berkembang, seperti cerita yang ingin saya bagikan berikut ini untuk mengingatkan kita lagi mengenai suatu proses. Kisah mengenai sebongkah tanah liat yang masih terlihat buruk rupa, suatu hari ada seorang penjunan dengan tangan kotor melemparnya ke sebuah roda berputar. Kemudian sang penjunan mulai memutar2nya hingga si tanah liat merasa pusing. Stop ! Stop ! teriaknya, Tetapi orang itu berkata “belum !” lalu ia mulai menyodok dan meninju tanah liat berulang-ulang. Stop ! Stop ! teriaknya lagi. Tapi orang ini masih saja meninjunya, tanpa menghiraukan teriakannya. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan tanah liat ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriak tanah liat dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriaknya lagi.

Tapi orang ini berkata “belum !” Akhirnya ia mengangkat tanah liat dari perapian itu dan membiarkan ia sampai dingin. Ia pikir, selesailah penderitaannya. Oh ternyata belum. Setelah dingin ia diberikan kepada seorang wanita muda dan danwanita itu mulai mewarnainya. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! berteriaknya. Wanita itu berkata “belum!” Lalu ia memberikan tanah liat kepada seorang pria dan ia memasukkannya lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya ! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis tanah liat berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang itu tidak peduli dengan teriakannya. Ia terus membakarnya.

Setelah puas “menyiksa tanah liat” kini ia dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin seorang wanita cantik mengangkatnya dan menempatkan tanah liat dekat kaca. Ia melihat dirinya. Ia terkejut sekali. Ia hampir tidak percaya, karena di hadapan tanah liat berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaan yang ia lalui menjadi sirna tatkala melihat dirinya.

Teman, bayangkanlah Indonesia saat ini adalah tanah liat yang sedang dibentuk oleh Tuhan, kita harus menjalani setiap proses yang ada, saya sangat yakin perlahan tapi pasti segala bentuk masalah yang menimpa bangsa kita adalah tempaan yang akan membuat Negara kita menjadi indah. Masalah lumpur di Lapindo, terorisme, dan resesi ekonomi pasti bisa kita lalui asalkan kita bisa mulai saling bekerja sama, semua ini tugas kita bersama bukan hanya tugas seorang pemimpin Negara. Saya percaya bahwa warga Negara Indonesia memiliki kemampuan yang mereka sendiri tidak menyadarinya, yaitu kekuatan untuk bertoleransi. Semoga teman2 bisa mulai bangkit untuk berjuang, seharusnya tenaga yang kita gunakan untuk berdemo seharusnya kita gunakan untuk memajukan Negara kita :).

2 thoughts on “Negaraku, Negaramu, Negara Kita

  1. Terus terang, artikel ini sangat menyentil gue karena gue beberapa kali mengalami hal2 yang memalukan berkenaan dengan identitas bangsa kita. Saat sedang di luar negeri, kebetulan gue memang suka sekali memakai batik saat jalan2 jika memakai celana panjang. Saat sedang di suatu mall di Kuala Lumpur, gue ditanya oleh seorang turis bule,” Excuse me, your shirt is good. It is batik, right ? Where did you buy it ?” dan gue jawab “Thanks for your compliment, but I bought this from my country, Indonesia, not from around here.” Dan dia kelihatan sangat kaget, “Oh yeah..I thought Batik is malay’s origin. I saw they sell it there” sambil menunjuk ke luar gedung. Gue hanya tertawa, dan menjawab, “No, actually batik from Indonesia. When I came a week ago, I brought along several shirts for my friends here. Maybe the seller outside sell Indonesian batik too, because we already export it to many countries all over the world.” Dia menjawab, “No, they said, those are their home made . But what your wearing now, much more beautiful.” Gue malas berdebat kusir, “Have you ever come to Indonesia ? I don’t think u have. Do come and see yourself in Solo, Jogja, or Bali. There are so many shops sell this kind of Batik I’m wearing now, and u can see they draw it infront of u. We, Indonesian have been producing traditional batik from hundred years ago, because it is our national heritage. May be the seller here, saying that because their ancestor came from Indonesia too. U just see it yourself, OK.” Lalu dia menjawab,”But I heard from my embassy, your country is not safe. There are so many demonstration around, and they train terorist in your country. Besides, the airport is bad. So dirty and full of bad people.” Lemes deh gue denger ungkapan kayak begituan. Mau menyangkal, tapi semalam nonton berita di hotel baru bom Ritz Carlton, soal demo mah gak usah dibilang deh, hampir tiap hari ada. Soal airport jorok dan banyak tukang palaknya, gue sendiri mengalami dan menyadari betul. Gue cuma menanggapi dengan senyum, “oh, I don’t think there is any place which is really safe in this world, especially the developing country. But I have several western friends who have been working in Jakarta for years, and they are still, until now. This is my name card., please gv me call when you come, I shall introduce you to some of them. May be I can show u around, OK.” Kita berjabat tangan dan berpisah. Dalam hati gue hanya bisa menyayangkan, sudah bangga2 ngaku WNI, eh cuma buat terima hinaan ini dan itu…….kasiaaan deh gue. Maju terus bangsaku, Jangan mau dihina terus. Gak usah muluk mau modern kayak Singapore, tapi yang penting jangan ntar2 demo yang bikin tambah macet, apalagi pake ngerusak. Jangan kasih kesempatan para teroris laknat ini merusak reputasi kita semua, dengan dalih agama, mereka membuat kita semua kena getahnya. Soal teroris, teman saya punya pengalaman buruk sekali di bandara di Amerika. Karena paspor Indo paspor hijau, dan kebetulan nama belakang dia dan adik perempuannya ada Salim, dia diperiksa berulang kali bahkan sampai digeledah di ruang khusus sampai telanjang bulat. Padahal dia itu WNI chinese tapi bermata bulat dan kulitnya agak coklat, dan karena namanya ada Salim, dan Salim itu menurut mereka berbau Arab, maka dicurigai sampai seperti itu, pasca twin tower. Sampai kapankah kita akan membiarkan hal ini berlangsung terus????

  2. iya benar juga, thanks ya sudah share pengalaman kamu, bagus banget 🙂 kalo ada pengalaman lain bisa share kan kita juga, thanks sudah mampir nongkrong di warungcurhat 😉

Leave a Reply