Bom Yang Tak Kenal Lelah

Kapan ya rencana seorang Noordin M Top dan antek-anteknya merencanakan pensiun dini?? Memangnya jaman sekarang ini susah banget ya cari kerjaan, sampai2 banyak yang nglamar jadi “pengantin” nya teroris. Bingung juga ya? sabtu kemarin saya membaca berita di koran mengenai seseorang yang mengaku bernama Noordin mengirimkan email pada salah satu siswa SMK di Jawa Timur. Kurang lebih isinya bagaimana Noordin menyatakan akan pensiun setelah ia berhasil membalas perbuatan Amerika dan menghancurkan kekuatan mereka di negeri serta Mengeluarkan mereka dari negeri-negeri kaum muslimin terutama dari negeri Indonesia. Nah lho, klo kita telaah lagi ini bisa dibilang bukan membela bangsa dan negara kita tercinta. karena didalam tujuannya para teroris lebih mementingkan dendam pribadi mereka dengan Amerika. Buktinya dalam setiap serangan bom yang kita ketahui lebih banyak warga Indonesia yang menjadi korbannya, lalu bagaimana pertanggung jawaban para teroris??

Saya tidak tahu bagaimana pola pikir para teroris, dendam yang membara dan dipendam kadang bisa membuat seseorang buta mata hatinya, sehingga mereka tega menyakiti orang tanpa pandang bulu. Saya ingin membagikan sebuah cerita yang saya dapat dari salah satu renungan pagi. Kisah mengenai Mojon dan shosei kina, suatu ketika di desa Shimmabuko, di pulau Okinawa terdapat Mojon dan Shosei kina yang sedang duduk di gubuk mereka yang reyot dan tidak terurus di pesisir pantai, akan tetapi pemandangan alam di sekitar desa nelayan itu yang sungguh bagus nampaknya. Suatu ketika mereka tengah duduk & berdiskusi mengenai hal ajaib yang baru mereka rasakan yaitu sebuah kitab yang diberikan seorang utusan penginjil dari negeri asing. Utusan injil itu mengajarkan mereka tentang Bapa Surgawi yang mengasihi & memelihara mereka. Orang asing itu berkata “Kamu dan Mojon harus membacanya. Kitab ini dapat memberi hikmat kepada kalian, dapat mengajar kalian lebih banyak lagi tentang Sang Juru Selamat. Peliharalah Kitab ini baik-baik; aturlah cara hidup kalian menurut isinya. Berdoalah, mohon supaya Allah Bapa membimbing usaha kalian untuk hidup sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus.”

Maka mulailah mereka membaca apa yang tertulis dalan alkitab tersebut. Mereka mulai membicarakannya pada penduduk Simmabuko. Penduduk desa itu mulai menjalani ajaran kitab itu dan mereka mulai hidup saling mengasihi & saling membantu tanpa pamrih, kebiasaan hidup mereka yang lama mereka tinggalkan. Mereka mulai berlaku jujur & memikirkan kepentingan orang lain. Hasilnya, desa yang awalnya kumuh itu berubah menjadi desa yang tentram & bersih. Tidak ada perselisihan terjadi. Hal ini berlangsung secara turun temurun pada tiap generasi. Penduduk yang paling rajin membaca alkitab adalah Mojon, semua penduduk desa sering meminta nasihat padanya. Sampai suatu ketika terjadi perang di Lautan Pasifik. Pasukan penggempur Amerika Serikat mengepung pulau Okinawa. Mereka memukul mundur pasukan Jepang yang sedang menduduki pulau itu. Desa Shimmabuko terletak persis di jalan yang hendak dilewati bala tentara Amerika. Beberapa bom meledak di desa yang tadinya damai dan sentosa itu. Pasukan Amerika semakin mendekat. Mereka membidikkan senjata ke arah desa Shimmabuko. Maka Shosei Kina dan Mojon sadar, telah tiba saatnya mereka harus bertindak. Kedua nelayan bersaudara yang sudah tua itu keluar dari desa mereka dan menuju ke baris depan pasukan penggempur Amerika. Mereka tersenyum ramah. Mereka membungkuk sebagai tanda hormat, sambil mengucapkan “Selamat datang!” Serdadu-serdadu Amerika itu kebingungan. Mereka berhenti melangkah. Untung, ada seorang pengalih bahasa yang mengikuti mereka. Setelah bercakap-cakap sebentar dengan kedua orang Okinawa itu, wajahnya penuh kehenaran. Ia menjelaskan: “Mereka hendak menyambut kita sebagai sesama orang Kristen! Kata mereka, dulu di sini ada utusan Injil dari Amerika, dan mereka senang sekali bertemu dengan kita!” Ia menggaruk-garuk kepalanya tanda kebingungan.

Dalam pasukan penggempur itu ada juga seorang pendeta tentara. Dengan beberapa opsir tentara, ia menghadap kepada kedua nelayan pulau Okinawa itu. “Biarkanlah kami memeriksa desa kalian,” pinta mereka melalui pengalih bahasa tadi. Kedua nelayan yang sudah tua itu membungkuk lagi. Lalu mereka mengantarkan orang-orang Amerika itu ke desa Shimmabuko. Memang ada beberapa bangunan yang terkena bom, tetapi tidak ada penduduk yang terluka. Mereka semua keluar dari rumah dan berderet-deret di sepanjang jalanan desa. Mereka tersenyum lebar-lebar ke arah teman-teman mereka yang baru itu. Pendeta tentara dan para opsir itu semakin kagum.Bagaimana sampai terjadi ada desa yang seolah-olah berseri ini? Rumah-rumahnya begitu rapi; jalanannya begitu bersih; para penghuninya begitu ramah, sehat, berbahagia! “Tolong beritahu kami,” pinta mereka kepada kedua nelayan tua itu, “bagaimana sampai terjadi kalian mempunyai desa yang begitu bagus keadaannya?” Dengan bantuan pengalih bahasa, Mojon memberitahu mereka. Ia bercerita tentang utusan Injil yang pernah mampir di Shimmabuko tiga puluh tahun yang silam. Ia bercerita tentang Alkitab yang ditinggalkan oleh orang Kristen itu. Ia pun menjelaskan bagaimana penduduk desa itu sudah menyelidiki Alkitab serta menemukan di dalamnya corak baru untuk cara hidup mereka. Pendeta tentara dan para opsir itu diam saja karena keheranan. Tetapi Shosei Kina mengira mereka membisu karena kecewa terhadap dia dan desanya. “Kami sangat menyesal, Tuan-Tuan yang mulia,” katanya sambil membungkuk lebih dalam lagi. “Pasti cara hidup kami dipandang masih terbelakang. Namun dengan sebulat hati kami berusaha mengikuti ajaran Tuhan Yesus yang tercantum di dalam Alkitab. Sudilah Tuan-Tuan yang mulia mengajari kami, bagaimana kami dapat mengikuti ajaran-Nya itu dengan cara yang lebih baik.” “Cara yang lebih baik?” Pendeta tentara itu mengulangi kata-kata tadi “Cara hidup mereka ini sudah jauh lebih baik daripada cara hidup kebanyakan orang Kristen!”

Beberapa jam kemudian, ada seorang wartawan Amerika yang ingin menyaksikan “desa yang berseri” itu. Ia dikawal oleh seorang sersan tentara yang adatnya keras. “Aku tidak mengerti,” kata sersan itu kepada sang wartawan. “Kebanyakan desa di pulau ini, penduduknya kotor, bodoh, putus asa. Tapi coba lihat desa ini! Perbedaannya begitu besar. Dan kata mereka semuanya terjadi hanya oleh karena di sini ada sebuah Alkitab dan dua orang kakek yang mau hidup seperti Yesus.” Kedua orang Amerika itu bertemu dengan Shosei Kina dan Mojon. Mereka merasakan hangatnya sambutan kedua nelayan bersaudara itu, walaupun mereka tidak mengerti kata-kata yang diucapkan. Sang wartawan ingin menyaksikan sendiri Alkitab yang telah menyebabkan perubahan yang sedemikian besarnya di desa Shimmabuko. Shosei Kina dan Mojon mengantar dia ke tempat ibadah. Di sana terdapat sebuah mimbar kasar dengan sebuah Alkitab tua yang diletakkan di atasnya, di tempat yang terhormat. “Bolehkah kupegang?” tanya wartawan itu dengan bahasa isyarat. Shosei Kina tersenyum. Ia mengangkat Alkitab tua itu dari atas mimbar. Sampulnya hampir terlepas; halamannya kumal; ternyata Kitab Suci itu pernah kehujanan, lalu dikeringkan. Namun Kitab Suci itu sangat berharga bagi penduduk desa Shimmabuko. Dengan pelan-pelan Shosei Kina meletakkan Alkitab itu di telapak tangan sang wartawan. Sersan itu amat terkesan. “Mungkin kita sudah bertempur dengan senjata yang keliru,” ia berbisik. “Mungkin Kitab Suci inilah yang lebih ampuh mengubah keadaan dunia.” Alkitab itu dikembalikan ke tempatnya. Kedua orang Amerika itu kembali ke tempat perkemahan mereka. Dan kedua orang Okinawa yang sudah tua itu berpamitan dengan sahabat-sahabat baru mereka. Rasa persahabatan itu hanya dapat timbul oleh karena ajaran Tuhan Yesus saja. Perang yang dahsyat sedang mencekam seluruh dunia. Namun di Shimmabuko, Firman Allah telah menjadi peraturan desa. Dan “desa yang berseri” itu tetap damai dan sentosa.

Cerita yang baru saja kita baca ini tidak hanya bisa diserap oleh umat Kristen saja, tapi saya sangat percaya bahwa dalam ajaran kitab manapun tidak akan mungkin ada ajaran untuk menyakiti sesama kita, apalagi sampai membalas dendam dengan membabi buta, dengan alasan membela agama2 tertentu. Kawan, mengapa tidak kita mulai mencoba untuk hidup saling berdampingan. Karena dendam dan amarah hanya akan menghasilkan karma yang sia2, yang pada akhirnya membuat keadaan semakin kacau. Coba ya para teroris itu tidak menyangkutkan agama tertentu & berhenti mendendam, sudah pasti dunia ini akan aman. Terjadinya perang dibeberapa daerah sering terjadi karena perselisihan pendapat & adanya rasa iri terhadap sesama. Coba deh kita mulai dari hal2 kecil dalam hidup kita, misalnya dengan mulai mengampuni orang yang menyakiti kita. Setiap Kesabaran pasti akan berbuah kasih yang berlimpah ^_^. Saya percaya perdamaian itu akan bisa kita ciptakan. Tuhan Besertamu kawan.

Leave a Reply